Jakarta 24 Nivember 2021
Wisuda merupakan momen yang paling ditunggu, setelah melewati berbagai perjuangan demi mendapat gelar sarjana. Perasaan senang tentu dirasakan seseorang saat wisuda.
Yg terhormat bung alias mativaktor #Yeromi bombok,SE
Selama saya proses dari awal sampai saat ini bisa selesai .
Yg terhormat .Ayah dan Ibu
Yg terhormat om om
Yg terhormat Anggota #IKB PMPT JAKARTA. saya sebagai manusia tidak bisa membalas sesuatu tetapi yg membalas yg punya segalanya
Wa….wa
https://www.instagram.com/p/CWuYVDfv28t/?utm_medium=share_sheet
http://umaginews.blogspot.com/2014/11/10-november-2001-theys-hilo-eluay-di.html?m=1
*MELAWAN LUPA:*
*10 NOVEMBER 2001, THEYS HILO ELUAY DI BUNUH KOPASUS INDONESIA*
_________________________
*”BILA SAYA MATI PASTI SAYA MASUK SORGA. JIKA DISORGA ADA ORANG INDONESIA, MAKA SAYA AKAN LARI KELUAR DARI SORGA DAN JIKA MALAIKAT BERTANYA KENAPA KELUAR DARI SORGA? SAYA AKAN MENJAWAB HABIS ADA ORANG INDONESIA, MASA MEREKA MAU JAJAH KAMI ORANG ASLI PAPUA DISORGA LAGI? ” (DORTHEIS HILO ELUAY 1937-2001)*
_________________________
Pahlawan Papua Barat (West Papua Hero) Dortheys Hiyo Eluay lahir di (Desa Sereh, Sentani, 3 November 1937–10 November 2001) adalah mantan ketua Presidium Dewan Papua (PDP), Pendidikan dan awal hidup, Dortheys Hiyo Eluay dididik di sekolah dasar lanjutan (Jongensvervolgschool) di Yoka, Sentani, Jayapura Papua Barat, pada masa penjajahan Belanda. Dia mempelajari meteorologi dan lalu bekerja sebagai asisten ahli meteorologi di Badan Metereologi dan Geofisika Pemerintah Hindia Belanda.
“Keluarganya merupakan kepala adat (ondoafi) di Desa Sereh. Dortheys Hiyo Eluay sendiri kemudian menjadi ondoafi berkat pendidikannya yang lumayan tinggi”
Setelah Belanda melepaskan kekuasaan pada tahun dia lalu membuat istri baru tapi orang Paniai yang bernama Salomina Pigome saudara dari bapak Yereminus Pigome.1963, Theys membantu TNI dalam memilih orang-orang yang dianggap pro-Belanda dan memprotes integrasi dengan Indonesia agar kemudian dibunuh. Ia merupakan salah satu dari 1.000 orang yang terpilih dalam Dewan Musyawarah Penentuan Pendapat Rakyat, yang mengikuti pemungutan suara untuk aneksasi dengan Indonesia pada tahun 1969. Dia berkampanye untuk bergabung dengan Indonesia. Pada tahun 1971, Theys bergabung ke Partai Kristen Indonesia dan masuk ke parlemen.
Karier politik Tahun 1977, Theys pindah ke Golkar. Ia menjadi anggota DPRD I Irian Jaya hingga tahun 1992. Dalam pemilu berikutnya ia tidak dicalonkan lagi sehingga ia kecewa, dan bersuara lantang terhadap Jakarta. Tahun 1992, dibentuk Lembaga Musyawarah Adat (LMA) yang menyatukan 250 suku Papua. Theys terpilih dan dinobatkan selaku Pemimpin Besar LMA Papua. Ia kemudian menobatkan diri jadi Pemimpin Besar Dewan Papua Merdeka.
Pada 1 Desember 1999, Theys mencetuskan dekrit Papua Merdeka serta mengibarkan bendera Bintang Kejora. Lalu pada Mei-Juni 2000, ia mengadakan Kongres Nasional II Rakyat Papua Barat, yang lalu dikenal sebagai Kongres Rakyat Papua, Jayapura. Dalam kongres itu, Theys terpilih sebagai Ketua PDP.
Konon ada beberapa faksi dalam Tentara Nasional Indonesia yang kurang suka akan adanya PDP ini sebab mereka takut bahwa hal ini akan menuju lepasnya Papua dari pangkuan NKRI. Lalu di bawah pemerintahan Megawati Sukarnoputri otonomi khusus ini harus dicabut kembali dan ada tuduhan bahwa PDP dihalang-halangi oleh oknum-oknum militer.
Kematian, Pada tanggal 10 November 2001, Theys Hiyo Eluay diculik dan lalu ditemukan sudah terbunuh di mobilnya di sekitar Jayapura. Menurut penyidikan Jenderal I Made Mangku Pastika, yang juga memimpin penyidikan peristiwa Bom Bali 2002, ternyata pembunuhan ini dilakukan oleh oknum-oknum Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Beberapa anggotanya, antara lain Letkol Hartomo, dipecat secara tidak terhormat. Dunia Internasional mengecam pembunuhan Eluay ini.
Eluay akhirnya dimakamkan di sebuah gelanggang olahraga di tempat kelahirannya Sentani pada sebuah tanah ada yang sudah diwakafkan oleh para tetua suku. Pemakamannya dihadiri kurang lebih 10.000 orang Papua. Pada jalan raya antara Jayapura dan Sentani sebuah monumen kecil didirikan untuk mengenang pembunuhan ini.
Memperingati Hari Kematian Dortheys Hiyo Eluay, DEWAN ADAT PAPUA minta pemerintah tidak membongkar makam Ketua Presidium Dewan Papua (PDP) Theys Hiyo Eluay di Taman Peringatan Kemerdekaan dan Pelanggaran HAM Papua, Sentani, Jayapura, (penyesuaian Suara Pembaruan, 10 November 2003). Pada hari berikutnya, 11 November 2003, rakyat Papua di Jayapura memperingati dua tahun meninggalnya Theys Hiyo Eluay dengan ibadat. Pada ibadat itu rakyat Papua mengadakan kegiatan tabur bunga di makam Theys.“Semua kegiatan itu sudah dilaporkan dan dikoordinasikan dengan intel Kodam dan Polda, “ kata Zadrak Taime, seperti dikutip Harian Suara Pembaruan, November 2003.
Harian Kompas melalui Antara, Juni 2007 mengatakan, isu pembakaran makan Theys itu tidak benar. “Tidak benar isu yang menyebutkan bahwa kuburan mendiang Theys Hiyo Eluay di Sentani, Papua, akan dibakar oleh seorang yang mabuk hari Kamis, (6/6) (2007: red).
Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Haryadi Soetanto mengatakan, Theys Hiyo Eluay sebagai tokoh yang dihormati perlu ditempatkan di lokasi yang baik dan terhormat (Cenderawasih Pos, 29 Mei 2008). “Sebagai seorang tokoh dan dihormati masyarakat, penempatan makam itu harusnya ditempatkan di lokasi yang baik dan terhormat, bukan di pinggir jalan,” kata Pangdam seperti dikutip Cenderawasih Pos, 29 Mei 2008.
Seperti yang dilangsir Cenderawasih Pos pada 31 Mei 2008, putra tertua Almarhum Theys, Michael Boy Eluay melarang keras atas rencana pemindahan makam ayahnya yang juga Presidium Dewan Papua (PDP) Theys Hiyo Eluay di Lapangan Sentani ke tempat pemakaman lain. “Tidak pernah ada rapat keluarga dan saya tegaskan bahwa makam tidak akan kami pindahkan, pemikiran bodoh jika ada yang berniat memindahkan. Biarkan almarhum istirahat dengan tenang dan dikenang masyarakat Papua, jangan diusik lagi perbuatan tersebut memiliki niat untuk mengadu domba saya dengan masyarakat,” kata Boy Eluay.
Pada surat kabar yang sama (Cenderawasih Pos), edisi 12 Juni 2008 memberitakan bahwa, pada Senin, 9 Juni 2008, dalam suatu ritual adat Sentani, kepala almarhum Theys Hiyo Eluay dihargai Rp150 juta lebih. Bayaran itu, dilakukan pihak keluarga besar Kampung Sereh kepada keluarga ibu Theys dari Kampung Babrongko. Prosesi adat pembayaran kepala ini berlangsung di Kampung Sereh, kediaman Ketua DPRD Kabupaten Jayapura Yohanes Eluay.
Seperti dilangsir kabarpapua.com, 13 Juni 2008, Thaha Alhamid dari Entrop Jayapura mengatakan, pihaknya sudah melaporkan upaya beberapa pihak untuk memindahkan makam Theys itu kepada gubernur Papua. “Tanggal 9 Juni 2008, kami melaporkan hal ini kepada Bapak Gubernur. Beliau marah dan menegaskan bahwa tidak ada orang yang boleh memimdahkan Makam kaka Theys,” tulis Thaha.
“Siang tadi (12 Juni 2008: red), area sekitar makam (badan lapangan) telah dipagar. Rangka kayu sudah jadi. Esok rencananya akan ditutup dengan seng. Pemagaran ini, konon atas perintah Yohanes Eluay dan kawan-kawan. Saya baru saja berkoordinasi dengan Ibu Hanna (Waket MRP) bahwa, tadi siang ibu ke gunung merah bertemu Johanes menanyakan alasan pemindahan makam. Dia bilang, posisi makam Theys itu mengganggu tata ruang kota. Info yang juga beredar (masih harus dicek kebenarannya) adalah area itu telah dijual seharga 5-6 Milyar, “demikian Thaha Alhamid seperti dikutip kabarpapua.com edisi 13 Juni 2008.
Seperti yang dikutip kabarpapua.com, Marvic menulis, Kamis 12 Juni 2008 tepat pukul 14:00 WIT sumber terpercaya kabarpapua.com di Sentani-Jayapura telah memberi laporan via telepon tentang rencana pembongkaran makam Theys. “Kuburan almarhum Theys Eluay nampaknya akan dibongkar malam ini, karena tadi sore sekitar pukul 15:55 WIT sudah dipagari dan ditutup dengan Triplex SGH sehingga kami tidak bisa melihat dari luar, “ demikian kata sumber terpercaya kabarpapua.com itu.
Pada kabarpapua.com edisi 13 Juni 2008 anonim menulis, ketua DPRD, Yohanes Eluay dan beberapa warga masyarakat yang mengklaim diri sebagai keluarga Theys Eluay bersama Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Haryadi Soetanto telah melakukan kesepakatan dengan satu pengusaha. Pengusaha itu telah menawarkan uang senilai 6 milyar untuk pembangunan sebuah toko di sepanjang areal tersebut.
Sementara itu, di tempat yang tidak jauh dari Pendopo, tepatnya di Pekuburan Umum Sereh, Sentani, 6 kolam digali dan sudah mulai dibangun. Salah satunya adalah, makam Theys bersama 5 kepala suku (baca: kabarpapua.com, 13 Juni 2008). Lebih lanjut Anonim itu menulis, besok pagi (13 Juni 2008:red), ketua DAP Forkorus dan masyarakat adat akan berkumpul di kediaman Theys Eluay untuk memblokade rencana pangdam. Sementara itu pada media yang sama pada tanggal yang sama, Thaha membenarkan rencana aksi penolakan itu.
“Esok, hari Jumat, 13 Juni 2008, berbagai kalangan yang menolak pemindahan makam. Mereka akan turun membongkar pagar di area makam. Dalam kondisi ini, agak sulit menghindari konflik terbuka antarsesama orang Papua. Malam ini, kami minta Pak Komaruddin Watubun, Waket DPRP kontak Kapolda Papua untuk ambil langkah penting agar kita semua bisa mencegah bentrok dan makam almarhum tidak dipindahkan,” jelas Thaha seperti dilangsir kabarpapua.com.
Masih sumber yang sama, edisi 13 Juni 2008 menulis, rencana Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Haryadi Soetanto, Ketua DPRD Kabupaten Jayapura, Yohanes Eluay dan beberapa warga Sentani yang mengatasnamakan pihak keluarga almarhum Theys, yang berencana memindahkan makam tokoh kharismatik rakyat Papua Barat ini akhirnya dibatalkan. Pada hari ini (Jumat 13/6) massa rakyat Papua Barat sejak pagi hari sudah menguasai makam dan membongkar bangunan pagar serta beberapa papan reklame yang dibangun pihak Yohanes Eluway Cs di sekitar pemakaman tersebut.
Pada siaran pers yang digelar di Pendopo Alm. Theys H. Eluay , Thaha Alhamid mengajak pihak masyarakat agar bekerja sama menjaga dan membangun tempat itu (makam Theys: red). Ia mengatakan akan membangun “Tugu Pelanggaran HAM dan Demokrasi”. “Saya harap mulai besok kita bersihkan tempat itu dan memasang papan pemberitahuan untuk rencana pembangunan “Tugu Pelanggaran HAM dan Demokrasi”, himbaunya seperti dilangsir berbagai media lokal dan nasional.
Ketika dihubungi via SMS (Sort Massage Service) pada 20 Juni 2008, salah satu aktivis ELSHAM Papua mengatakan, hingga saat ini (20 Juni 2008: red) makam Theys belum dipindahkan. Masyarakat Papua sudah membersihkan makan Theys dan masih menjaga-jaga. Hingga saat ini, makam Theys yang terletak di depan Bandar Udara Sentani, Jayapura itu masih belum dibongkar.
*Theys: Tokoh yang Dihormati, Makam yang ‘Ditakuti’*
Harian Tempo, Senin, 13 November 2006 menulis, bekas presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur meminta pemerintah menjadikan almarhum Theys Hiyo Eluay sebagai pahlawan nasional. Alasannya, Theys tak hanya dikenal warga Papua, tapi juga masyarakat nasional maupun internasional. “Saya tidak akan berhenti berjuang sebelum Theys dinyatakan sebagai pahlawan nasional karena sudah selayaknya penghargaan itu diberikan untuknya,” kata Gus Dur dihadapan ratusan masyarakat Papua di makam Theys, setelah sebelumnya tiba di Bandara Sentani dan langsung diarak dengan tarian khas Sentani menuju ke makam Theys untuk acara tabur bunga.
Dalam ziarahnya ke makam Theys, Gus Dur juga meletakkan batu pertama untuk pembangunan monumen penegakan demokrasi di tanah Papua yang dibangun tepat di samping makam Theys. “Monumen ini dibangun bersebelahan dengan makam Theys untuk menyatakan kepada dunia bahwa Theys seorang yang besar. Tapi dapat dibunuh dihadapan orang Papua dan hal ini menunjukkan kejahatan yang dilakukan terhadap orang Papua,” kata Sekretaris Dewan Adat Papua, Sayid Fadli Alhamid seperti dikutip Tempo, Senin, 13 November 2006.
Sosok almarhum Theys Hiyo Eluay adalah seorang Ondofolo (pemimpin adat) yang disegani, pernah menjadi anggota DPRD Irian Jaya (Papua), juga sebagai Ketua Presidium Dewan Papua (PDP) yang saat itu ngetol menyuarakan aspirasi Papua Merdeka. Dia benar-benar kharismatik, disegani dan dihormati hingga saat ini oleh rakyat Papua. Karena dia adalah pemimpin bangsa Papua Barat, maka sejak Theys dibunuh, makamnya dijadikan pusat kegiatan peringatan dan sekaligus tempat rakyat Papua mengutuk para penculik yang menyebabkan pemimpin bangsa Papua itu tewas.
Ketika Theys dimakamkan ratusan kembang-kembang kertas dari berbagai organisasi di Papua yang bertuliskan dukacita membekas di pusara. Lebih penting lagi adalah duka cita mendalam rakyat Papua yang mengantar Theys ke peristirahatan terakhir secara langsung maupun tidak langung dari seluruh pelosok tanah Papua. Rakyat dan tanah Papua sudah mengatakan dan mengiklaskan lapangan sepak bola Sentani sebagai tempat peristirahatan pemimpin bangsa Papua sekaligus taman “Taman Peringatan Kemerdekaan dan Pelanggaran HAM Papua”.
Hingga kini, taman itu telah begitu dikenal secara luas hingga ke dunia internasional. Hingga saat ini rakyat Papua justru menunggu rencana DAP dan DPD untuk membuat jalan setapak yang menghubungkan Jalan Raya Sentani dengan makam Theys (sekitar 15 meter jaraknya).
Maka, benar jika tanggal 11 November oleh Harian Kompas, dinyatakan sebagai hari bersejarah bagi bangsa Papua Barat. Lantas, 11 November 2001, Ketua Presidium Dewan Papua, Theys Hiyo Eluay ditemukan tewas di Koya Tengah, (Kompas, 07 September 2003). Harian Tempo, 13 November 2006 juga menulis Theys ditemukan tewas di daerah Skamto-Skow Sai, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, usai mengikuti peringatan Hari Pahlawan yang di Markas Tribuana X Kopassus, Hamadi Gunung-Kota Jayapura pada 10 November 2001.
Tidak hanya itu, pada sebuah diskusi hari HAM di Yogyakarta 2006, Pastor Martino Sardi, OFM yang baru saja pulang dari Roma mengatakan, Statuta Roma mengakui Theys sebagai pemimpin yang dihormati sekaligus pembunuhannya sebagai salah bentuk Genoside.
Jadi, Theys tidak hanya dihormati dan pemimpin bangsa Papua Barat tetapi juga pemimpin bangsa-bangsa yang sedang berjuang untuk demokrasi dan HAM. Maka, tepat jika Ketua Dewan Adat Papua (DAP), Forkorus Yaboisembut dalam jumpa pers di Pendopo Alm. Theys Eluay mengatakan, makam Theys tidak dapat dipindahkan, tanpa izin rakyat Papua.
Namun, baru setelah tujuh tahun, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Haryadi Soetanto justru mengakui Theys sebagai tokoh. “Sebagai seorang tokoh dan dihormati masyarakat, penempatan makam itu harusnya ditempatkan di lokasi yang baik dan terhormat, bukan di pinggir jalan,”, Cenderawasih Pos edisi 29 Mei 2008 lalu.
Sementara dalam Cenderawasih Pos , 29 Mei 2008 , Yohannes Eluay mengakui bahwa rencana pemindahan makam ini berdasar idenya. Ide tersebut bukan berarti tanpa alasan yang kuat. Alasan untuk memindahkannya menurut Yohannes yang memanggil almarhum sebagai bapa tua ini adalah agar makam bisa lebih terawat dan mendapatkan tempat yang layak, serta melaksanakan kewajiban-kewajiban adat di mana selama ini belum terlaksana. Karena itu, jika pemindahan ini dilakukan, maka dengan sendirinya penghormatan terhadap adat bisa dilaksanakan.
Disinggung soal lokasi yang rencananya dijadikan makam tokoh berambut khas ini, dikatakan Yohannes bahwa akan mengambil tempat di depan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Solafide Sereh dan bukan di pekuburuan umum. Alasannya, almarhum merupakan seorang tokoh yang merakyat dan untuk perawatan yang maksimal. “Saya belum tahu kapan karena masih rencana,” kata Yohannes seperti dilangsir Cenderawasih Pos , 29 Mei 2008.
Menjawab pertanyaan wartawan bahwa ada alasan pemindahan makan Theys menurut Pangdam yang konon dipakai sebagai fasilitas umum dan bahwa tempat itu tidak diperhatikan baik, Forkorus mengatakan bahwa memang sampai hari ini DAP belum memunyai dana untuk membangun lingkungan makam itu. “Uang Otsus sampai hari ini belum diterima oleh DAP untuk bangun tempat itu. Kami sudah usaha namun belum dapat, tapi itu bukan alasan untuk pemidahan tempat itu, kami tetap akan membangun tempat itu, karena itu rakyat Papua yang punya”, jawabnya.
Rencana pemindahan itu, menurut Forkorus merupakan kepentingan jabatan, popularitas dan uang bagi mereka yang sedang merencanakannya. “Janganlah ada kepentingan jabatan, pangkat atau cari popularitas dan uang di balik rencana-rencana ini. Kami sudah tahu ada pengusaha yang menawarkan uang 1,5 m dan sekarang sudah 6,5 m kepada pihak-pihak pencari pangkat dan uang untuk areal ini. Kami himbau untuk hentikan kepentingan- kepentingan itu”, tegas Forkorus seperti dikutip kabarpapua.com, 12 Juni 2008.
Pada Cenderawasih pos, 29 Meu 2008, Boy Eluay mengatakan, ia sebagai bagian dari rakyat bangsa Papua Barat, tetap pada prinsipnya. “Saya sebagai bagian dari rakyat Papua Barat tetap tidak ingin makam ayah saya dipindahkan dengan alasan apa pun. Kalau ada yang mengatakan pihak kelurga setuju untuk dipindahkan, saya tanya itu pihak keluarga yang mana? Saya sudah katakan bahwa kami keluarga sudah menyerahkan Almarhum dan makam tersebut kepada bangsa Papua Barat, sehingga jika rakyat Papua Barat ingin itu pindah, yah kami pindahkan, tapi kalau tidak jangan ada pemaksaan” tutur Boy.
Situs berita kabarpapua.com, 13 Juni 2008 menulis, pembangunan itu diduga kuat dibiayai oleh negara melalui intelijen RI dan elit-elit lokal bersama beberapa warga keluarga di Sentani. Pasalnya, rencana pemindahan makam Theys itu tidak jauh dari upaya negara menghilangkan kejahatannya dari pandangan wisatawan mancanegara.
*Kontroversi Pemindahan Makan dari Perspektif Deklarasi HAM ADAT*
Dalam perspektif negara-bangsa dalam kaitannya dengan Hak Asasi Manusia, semua produk hukum internasional menyangkut moral kemanusiaan atau Hak Asasi Manusia, maka tertulis jelas bahwa dalam konteks ini negara tidak memiliki hak apa pun untuk melakukan apa pun terhadap sebuah manusia atau kemanusiaan. Negara hanya berkewajiban dan kewajiban utama adalah melindungi dan menegakkan hak asasi manusia. Oleh karena itu, produk hukum utama internasional, yaitu Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, Piagam HAM PBB, Konvensi PBB tentang Hak-Hak ECOSOC, dan tentang SosPol diakhiri dengan Deklarasi HAM ADAT dan Deklarasi Kaum Minoritas (baca: papuapost.com, 19 Juni 2008).
Dalam deklarasi HAM ADAT pasal 1, 2, dan 3 menandakan dengan jelas eksistensi dan jati diri Masyarakat Adat (MADAT) diakui secara Internasional sebagai bagian dari masyarakat dalam komposisi dan konstelasi sosial-politik masyarakat modern. Mereka tidak masuk ke dalam kelompok Masyarakat Sipil, Masyarakat Ekonomi ataupun Politik. Berdasar tiga pasal (baca: papuapost.com, 19 Juni 2008) , maka jelas sekali MADAT berhak menikmati segala hak yang seharusnya dimiliki dan dinikmati oleh semua umat manusia di Planet Bumi ini, termasuk hak untuk menghargai dan mengatur penguburan dan penentuan tempat pemakaman sesama manusia yang telah meninggal dunia.
Dalam kasus isu pemindahan makam Ondofolo Theys Hiyo Eluay ini MADAT Papua berhak penuh untuk menentukan dan memeliharan makamnya. Apalagi Almarhum adalah salah satu Tokoh Adat bangsa Papua, bukan sekedar tokoh Adat Sereh/Sentani.
Salah satu dari hak kolektif bangsa Papua adalah hak untuk menentukan lokasi makam Almarhum, mengingat beliau adalah Tokoh Adat Papua, terlepas dari beliau adalah Ketua PDP, tokoh pejuang aspirasi bangsa Papua. Tanpa beliau menjadi Ketua PDP pun, sebagai anggota dan tokoh MADAT Papua, MADAT Papua secara kolektif berhak secara bersama-sama menentukan nasib dari lokasi makam dimaksud.
Almarhum telah diberikan berbagai penghargaan dan gelar serta penobatan sebagai Tokoh Adat disertai segala perkakas doa dan mantra adat dari berbagai suku di Tanah Papua. Apalagi, posisi beliau adalah sebagai Ketua PDP, dan dibunuh pun bukan karena ia menjadi Ondofolo di Sentani atau Ondoafi Sereh, tetapi karena ia menjadi Tokoh Adat Papua, Pemimpin Besar Bangsa Papua, maka dalam konteks ini, hak individual dan hak kolektif suku Sereh/Sentani itu haruslah menghormati dan menyesuaikan diri dengan hak kolektif dan Hukum Adat suku-suku di bangsa Papua secara keseluruhan.
*Refleksi Rakyat Semesta Papua*
Teka-teki ini membuat seluruh rakyat semesta bertanya. Mengapa harus setelah tujuh tahun lebih Theys diakui sebagai tokoh dan harus dihormati? Apakah bentuk penghormatan harus dengan pemimdahan makamnya? Apakah taman itu bukan diberikan oleh rakyat dan tanah Papua sebagai penghormatan kepada pemimpin mereka? Mengapa pembayaran kepala ini baru muncul hampir tujuh tahun setelah kematiannya?
Siapa yang harus membayar kepala, sementara Almarhum wafat di medan perjuangan untuk bangsa Papua? Mengapa pihak keluarga Almarhum yang layak menerima bayaran dimaksud tidak memintakan pembayaran dimaksud kepada seluruh bangsa Papua? Mengapa pengaturan pembayaran kepala tidak diatur oleh Boy Eluay sebagai anak lelaki pengganti Almarhum menurut Adat Papua? Apa hubungan hukum adat dengan gereja, sehingga pemindahan makam Almarhum dengan dalih hukum adat dilakukan, tetapi pemindahannya bukan ke Pendopo Boy Eluay, tetapi di halaman Gereja?
Mengingat (1) Theys tidak hanya dihormati dan pemimpin bangsa Papua Barat tetapi juga pemimpin bangsa-bangsa yang sedang berjuang untuk demokrasi dan HAM; (2) Theys dibunuh bukan karena ia menjadi Ondofolo di Sentani atau Ondoafi Sereh, tetapi karena ia menjadi Tokoh Adat Papua, Pemimpin Besar Bangsa Papua; dan (3) Theys dibunuh bukan karena mengurus masalah suku Sereh, tetapi karena masalah rakyat Papua, maka pemindahan makam Theys kiranya atas persetujuan seluruh rakyat Papua. Rakyat Papua belum pergi dan menanti hari Theys baru lahir untuk menggapai gita bersama membangun monument Peringatan Kemerdekaan dan Pelanggaran HAM Papua di atas makam Theys di lapangan Sentani, Jayapura.
Solidaritas Nasional untuk Papua (SNUP)
Mengenai Proses Pengadilan Pembunuhan Theys Eluay
Oditur Militer Tinggi III Surabaya telah mengajukan tuntutan kepada 7 orang terdakwa dalam kasus pembunuhan ketua Presidium Dewan Papua, Theys Hiyo Eluay, masing-masing sebagai berikut:
1. Letkol.Inf. hartomo dituntut 2 tahun penjara
2. mayor. Inf. Donny Hutabarat dituntut 2 tahun 6 bulan
3. kapten. Inf. Rionardo dituntut 2 tahun penjara
4. lettu., inf. Agus Supriyanto dituntut 3 tahun plus usulan dipecat
5. sertu Asrial dituntut 2 tahun penjara
6. sertu Laurensius LI dituntut 2 tahun penjara
7. parka Ahmad Zulfahmi dituntut 3 tahun penjara plus usulan dipecat
Dari pengamatan yang dilakukan oleh SNUP selam persidangan pembunuhan Theys Hiyo Eluay yang masih berlangsung di pengadilan Surabaya :
– dua orang pelaksana lapangan dalam operasi penggalangan yang manyebabkan terbunuhnya Theys, yaitu Lettu Agus Supriyanto dan Praka Ahmad Zulfahmi dikenai tuntutan 3 tahun penjara dan diusulkan untuk dipecat, sedangkan letkol inf. Hartomo dan Mayor Inf Hutabarat sebagai atasan para terdakwa yang memerintahkan dilaksanakannya operasi dikenai tuntutan 2 tahun dan 2 tahun 6 bulan penjara.
– Ketujuh terdakwa yang dikenakan tuntutan subsider pasal 351 ayat 3 jo 55 yaitu penganiayaan yang mengakibatkan kematian, sedangkan dakwaan primer pasal 338 KUHP yaitu dengan sengaja merampas nyawa orang lain (pembunuhan), dinyatakan tidak terbukti oleh Oditur Militer.
– Operasi penggalangan berasal dari surat perintah Danjen Koppasus Mayjen Amirul Isnaeni, tanggal 2 Februari 2001 kepada Komandan Satgas Markas Tribuana untuk melakukan operasi intelejen, penyelidikan, pegamanan dan penggalangan.
– Satgas Tribuana di Bawah Kendali Operasi (BKO) Kodam Trikora, sehingga kendali Operasi dibawah Pangdam. Namun hal tersebut dibantah oleh Pangdam Mahidin Simbolon.
– Menurut tuntutan Oditur Militer, hal yang memberatkan terdakwa adalah tidak profesional menjalankan perintah. Perintahnya adalah melakukan penggalangan opini rakyat Papua dengan cara kontak person dan dialog. Mengenai bagaimana pelaksanaannya seperti perintah Hartomo � terserah bagaimana caramu yang penting tidak berlebihan.� Namun kemudian diartikan sebagai ijin untuk melakukan tindakan fisik sehingga menyebabkan kematian Theys.
– Lettu Agus Supriyanto dan Praka Ahmad Zulfahmi dinilai tidak profesional dan salah menafsirkan perintah.
Berdasarkan uraian diatas, maka SNUP memberi catatan sebagai berikut :
– Pengadilan militer saat ini masih berlangsung merupakan upaya untuk memutus Rantai Komando Pertanggungjawaban (chain of command responsibility) dan menumbalkan para pelaksana operasi lapangan saja. Ini terlihat bahwa faktor yang memberatkan terdakwa adalah ketidakprofesionalan menjalankan tugas dan salah menafsirkan perintah operasi.
– Pengadilan Militer ini hanyalah untuk menghindari dilaksanakannya UU No 26 tahun 2000, yang memberikan weewenang kepada pengadilan HAM untuk mengadili kasus-kasus pelanggaran HAM. Tuntutan hukuman Oditur Militer yang sangat rendah kepada para terdakwa juga menunjukkan bahwa persidangan yang dilaksanakan hanya sekedar memenuhi prosedur hukum belaka dan jauh dari rasa keadilan.
Upaya-upaya untuk menghindari terbentuk pengadilan HAM tersebut jauh-jauh hari sudah terlihat, antara lain:
– Pra penyelidikan
a. Panglima TNI Jenderal Widodo AS (15 November 2001) membantah keterlibatan TNI, � TNI tidak sebodoh itu
b. Kepala BIN Hendropriyono (17 November 20010 menyatakan kematian Theys karena ada friksi antar kelompok orang Papua, Saya tidak bisa menjelaskan karena bukan wewenang intelejenï
c. Danjen Koppasus Mayjen Amirul Isnaeni (20 November 2001) membantah Kopassus terlibat, sudah saya cek, tidak ada yang terlibatï
– Tahap Penyelidikan:
a. Pemerintah dalam hal ini Presiden Megawati, membentuk KPN (Komisi Penyelidik Nasional) dan mengabaikan wewenang Komnas Ham sebagai satu-satunya lembaga yang berwenang melakukan penyelidikan terhadap peristiwa yang teridentifikasi sebagai pelanggaran HAM. Padahal KPN tidak diatur dalam mekanisme hukum pidana dan perundang-undangan yang ada.
b. Menurut keterangan Dr. Phil K Erary dan Drs. Jhon Ibo (ketua DPRD Papua), Ketua KPN, Koesparmono Irsan dan Mensetneg Bambang Koesowo, sebelum penyelidikan selesai telah menyimpulkan belum adanya pelanggaran HAM berat.
c. Dalam risalah rapat tertanggal, 18 Maret 2002, antara Koesparmono Irsan dan Bambang Koesowo disebutkan ada kesepakatan untuk tidak mengarahkan hasil penyelidikan para pelanggaran HAM berat, karena akan melibatkan KPP HAM dan Kejaksaan.
Melihat catatan diatas, maka Solidaritas Nasional untuk Papua menyatakan :
1. mempertegas kembali penolakan SNUP terhadap pengadilan Militer atas kasus pembunuhan ketua Presidium Dewan Papua, Theys Hiyo Eluay. Karena kejahatan yang dilakukan oleh institusi militer terhadap masyarakat sipil diadili oleh militer sendiri, jelas bertentangan dengan prinsip imparsial sebuah pengadilan. Fakta-fakta diatas, ditambah fakta atas pengadilan militer atas kasus Trisakti dan kasus penculikan, kiranya sangat cukup untuk mendukung penolakan ini.
2. pembunuhan theys adalah sebuah pelanggaran HAM yang dilakukan secara sistematik dan melibatkan aparat negara. Keberadaan Surat Perintah dari Danjen Kopassus Mayejn Amirul Isnaeni 2 Februari 2001 kepada Komandan Satgas Tribuana, menjadi rantai antara Dokumen Ditjen Linmas dan Kesbang Depdagri tertanggal 9 Juni 2000 dengan pembunuhan Theys.
3. mendesak agar Komnas HAM melakukan kewenangan yang diberikan dalam pasal 18 UU No 26 tahun 2000 tentang pengadilan HAM untuk melakukan penyelidikan atas kasus Pembunuhan Theys Hiyo Eluay dan hilangnya Aristoteles Masoka. (Admin)
Sumber: Buku, media online
Fota Masa aksi se-jawa dan bali di depan kantor kementerian dalam negeri jakarta pusat.
Kami Mahasiswa/i Kabupaten Tolikara Menuntut hak hak Mahasiswa se Indonesia kepada Pemerintah Daerah Kab.Tolikara Provinsi Papua Pendidikan masional berdasarkan pancasila dan Undamg-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Sesuai demgan undang umdang no.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.Satuan pendidikan adalah kolompok layanan pendidikan yang menyelengarakan pendidikan pada jalir formal,dan informal, pada setiap jejang dan jenis pendidikan.
Pendidikan informal adalah jalur pendidikan terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar,pendidikan menengah,dan pendidikan perguruan tinggi .Mahasiswa/i adalah kelompok Warga Negara Indonesia non pemerintah yang mempunyai perhatikan dan peranan dalam bidang pendidikan. Mahasiswa adalah tunas untuk keberlangjutan pembangunan daerah kabupaten tolikara di masa yang akan datang.
YANG TERHORMAT SEMUA RAKYAT PAPUA DAN SEMUA PANITIA PB PON.
KEJADIAN KERUSUHAN TADI SOREH DI GOR TINJU APO JAYAPURA SESUNGGUHNYA ADALAH KESALAHAN OKNUM PETINJU YANG MEWAKILI DARI DAERAH IBUKOTA NEGARA JAKARTA DKI DAN OPISIALNYA .
USAI PERTANDINGAN RONDE KE 3 PETINJU DKI VS NTT , AKHIRNYA WASIT MEMUTUSKAN NTT MENANG DAN PETINJU ASAL DKI DAN OPISIAL TIDAK TERIMA KEKALAHAN ITU DENGAN BAIK.
OKNUN PETINJU TURUN DARI RING DAN MELEMPAR-LEMPAR KURSI DAN MEJA PANPEL BAHKAN BONGKAR” PAGAR PEMBATAS RING TRALI BESIH , DAN PROTES NYA TERLALU LEWAT BATAS DAN TIDAK PROVESIONAL MALAH MEMBUAT ONAR.
SEHINGGA PANPEL DAN KEAMANAN BERUSAHA AMANKAN NAMUN PETINJU ASAL DKI ITU MASIH BERSI KERAS DAN BUAT PERLAWANAN SEHINGGA PANPEL YANG BERTUGAS DI BAGIAN RING SATU MENAHAN NAMUN TDK BISAH SEHINGGA PARA SUPORTER AMBIL ALIH AMANKAN OKNUM DAN OPISIAL DARI DKI.
JADI YANG MEMBUAT ULAH KEGADUAN MASALAH ADALAH OKNUM PETINJU DAN OPISIALNYA BUKAN PANPEL.
SESUNGGUHNYA PPANPEL TINJU DAN PANITIA PB PON SUDAH TERIMA ATLIT DAN PARA OPISIAL DARI BERBAGAI DAERAH DENGAN SANAGAT BAIK. PANPEL DAN PB PON SUDAH KASIH JAMIN MAKAN DENGAN BAIK DAN PENGINAPAN ATLIT DENGAN BAIK. NAMUN OKNUM DAN OPISIAL DKI TIDAK HARGAI KINERJA PANPEL DAN PANITIA BESAR PB PON MAKA AKIBATNYA SEPERTI ITU.
SESUNGGUHNYA YANG BERSALAH ADALAH PEMBUAT HONAR OKNUM PETINJU YANG TDK PROFESIONAL ITU BUKAN PANPEL YANG SALAH
SAYA YANG MENULIS INI SALAH SATU SAKSI BAHKAN SAYA ADALAH SALAH SATU ALUMNI BANDUNG JAWA BARAT JUJUR SAJA DULU WAKTU ITU SAYA WAKIL KETUA IMAPA ( IKATAN MAHASISWA SETAHA PAPUA JAWA BARAT BANDUNG BAHKAN SAYA DI LIBATKAN DENGAN ANGGOTA SAYA WAKTU ITU MENGGAWAL ATLIT DARI PAPUA DI PON JAWA BARAT BANDUNG .
WAKTU ITU PON DI ADAKAN DI JAWA BARAT BANDUNG PETINJU DAN OPISIAL DARI PAPUA MAU PORTES SAJA SANAGAT SUSAH SAMPAI” KEAMANAN DATANG LANGSUNG MAIN ANGKAT DAN KASIH KELUAR DARI RUANGAN SAMPAI” KAMI PAPUA TDK DAPAT EMAS 1 PUN DI TINJU BAHKAN DI CABOR LAIN JUGA SAMA.
JADI SAYA HARAP KEPADA SEMUA RAKYAT PAPUA YANG KOMENTAR MIRING KE PANPEL BAHKAN PANITIA PB PON PAPUA STOP KOMENTAR MIRING DAN YANG TDK” KALAU TDK TAU SOAL DAN PENNYEBAP JANGAN BUAT NARASIH SEMBARANG YANG BANGGUN KONFLIK BAHKAN MENJELEKAN PANPEL.
. DI DALAM WASIT ADA YANG TDK BERES SEHINGGA SEDANG DI BENAHI. AGAR TDK TERJADI SALING MEMIHAK DAN MEMBUAT KONFLIK SEHINGGA NAMA PANITIA PB PON DI JATUHKAN KAMI PANPEL SIAP SUKSESKAN PON PAPUA XX 2021.
Terima kasih Tuhan kahirnya pada hari ini telah yudisium ,bukan karena kepintaran atau kehebatan tetapi karena campur tangan.Tuhan akhirnya saya yudisium ,dan juga tidak melupakan kepada Dosen pembing materi dan Dosen pembimbing Teknik penulisan bahakan juga Dosen penguji 1 dan Dosen penguji 2 dan juga teman saya selalu kerja sama dari awal sampai akhir ini saya tidak bisa membalas harta benda apapun tetapi yang punya akan membalas semuanya. Dan juga tidak lupa Terima kasih juga kepada (Ayah dan Ibu) selelu mebantu saya dari SD,SMP,SMA,dan Kuliah ini saya pribandi banyak terima kasih.
Foto bersama dengan adik adikku.
Terima kasih kepada adik adikku sudah mendambingi saya sidang Tuhan Yesus memberkati .
Sahabat-sahabat disisini saya akan membagikan cerita singkat,apa yang saya mengerti tentang suku lani, lebih khususnya. Tiom. Kab. Lanny Jaya.
Secara Umum Agama, Kesenian Dan Ilmu Pengetahuan Dalam Suku Lani.
Suku lani Ditemukan
Kesenian
Nama 0bat tradisional orang lani
Pendidikan
Mata Pencaharian/Ekonomi
Rumah Adat (kunume)
Bentuk Honai
Atap Honai
Dinding & Pintu (tungganggi)
Ketinggian
Fungsi Honai (Kunume)
Filosofi Honai
Bahan Pembuat
Tradisi Potong Jari
Mengapa Jari yang Dipotong
PENDAHULUAN
Lani adalah salah satu dari sekian banyak suku bangsa yang terdapat atau bermukiman atau mendiami wilayah pengunungan Tiom/lanny jaya Suku lani adalah sekelompok suku yang mendiami wilaya di Pegunungan. sejak ratusan tahun lalu suku lani sebagai petani yang terampil dan telah menggunakan alat/perkakas yang pada awal mula ditemukan diketahui telah mengenal teknologi penggunaan kapak batu, pisau yang dibuat dari tulang binatang, bambu dan juga tombak yang dibuat menggunakan kayu. Mereka menggantungkan hidup dari alam dengan bercocok tanam sebagai aktivitas utamanya. Setiap hari, orang lani menanam ubi ‘’mbi’’ sayur mayur kemudian memanen dan menjualnya ke pasar.Cara berpakaian pun, mereka masih banyak mengenakan ‘’KOTEKA’’ (Penutup kemaluan pria) yang terbuat dari kunden/labu kuning ‘’Gio’’ dan para wanita menggunakan pakaian berasal dari rumput/serat ‘’Gentali,nupur tali,wabin tali,wurtali’’ dan tinggal di “honai” (gubuk yang beratapkan jerami/ilalang).
Suku lani Ditemukan Suku lani, pertama kali ditemukan oleh, Para Misionaris Australian Baptis Society (ABMS) Membawa kabar baik, Injil YESUS KRISTUS Dari Benua Australian ke Papua Barat, Tempat di Tiom Pada Tanggal 28 Oktober 1956.
Kesenian Kesenian masyarakat suku Lani dapat dilihat dari cara membangun tempat kediaman, mereka honai Bahasa lani disebut ‘’o’’ ada beberapa bangunan, seperti : Honai ‘’Kunume’’ tempat tidur khusus pria, Honai ‘’ndupaga’’ tempat tidur khusu Wanita dan ‘’Dapur’’ walia/lakawi tempat masak dan peliharaan ternak mereka yaitu Babi. Selain membangun tempat tinggal, masyarakat Lani mempunyai seni kerajinan khas, anyaman kantong jaring penutup kepala, Noken, anyam untuk tutup dindin honai, dan pegikat kapak. Orang lani juga memiliki berbagai peralatan yang terbuat dari; pana, anak panah, Busur, tompak. (Sege, Jigin, Wim, male, irege, tugua,)
Nama 0bat tradisional orang lanny Sebagian besar suku Lani, lebih khususnya Kabupaten lanny jaya/Tiom. beragama Kristen Protestan ada kaitan antara manusia dan alam. Orang Tiom mengenal alat hidup yakni jigin “busur”, male “anak panah”. Dalam kesenian, ibu-ibu, cara berpakaian mereka dari kulit kayu Bahas daerah ‘’Gentali,nupur tali,wabin tali,wurtali,kerage tali’’ Sistem pengetahuan misalnya obat-obatan tradisional antara lain sebagai berikut:
Buah merah,dalam Bahasa daerah disebut tawi, untuk mengurangi berbagai penyakit, Contoh Sakit Jantung Luka Jantung dan lain, ada juga buah merah warna kuning.
Daun kayu namanya dolungga, dengan cara dipanaskan terlebih dahulu,lalu, diberhentikan darah ibu yang melahirkan. Dan tempel di luka seperti pelester.
Daun gurungga, dipanaskan.untuk kompres dibagian badan yang bengkak dan bisa juga daun dolungga.
Towo, daun gatal untuk obat kecapean seperti balsem.
Untuk obat bisul Kumbi kumbingga, dengan cara dipanaskan lalu temple di bisul.
Dan masih banya lagi.
Pendidikan Masyarakat Lani senantiasa hidup berdampingan dan saling tolong menolong, kehidupan masyarakat Lani memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
Masyarakat Lani memiliki kerjasama yang bersifat tetap dan selalu bergotong royong
Setiap rencana pendirian rumah selalu gontong royon sesama keluarga dan tetangga.
Medidik anak-anak bercocok tanam ubi, sayur mayor, dan cara buat Pagar, membuka lahan baru, cara berburu dan lain.
Mata Pencaharian/Ekonomi Mata pencaharian pokok, orang tiom adalah bercocok tanam dan berternak babi. Ubi merupakan jenis tanaman yang diutamakan untuk kebutuhan keluarga, artinya mata pencaharian umumnya mereka adalah berkebun. Tanaman-tanaman mereka yang lain adalah pisang,’’lawi’’ tebu, ‘’ken’’ dan tembakau. Kebun-kebun milik suku Lani ada dua jenis, yaitu:
Kebun-kebun di daerah rendah dan datar yang diusahakan secara menetap
Kebun-kebun di lereng gunung Kebun-kebun tersebut biasanya dikuasai oleh sekelompok atau beberapa kelompok kerabat. Batas-batas hak ulayat dari tiap-tiap kerabat ini adalah sungai, gunung, atau jurang. Dalam mengerjakan kebun, masyarakat orang lani masih menggunakan peralatan sederhana seperti tongkat kayu berbentuk linggis disebut’’irege’’ dan kapak batu. Selain berkebun, mata pencaharian suku Lani adalah beternak babi. Babi dipelihara dalam kandang yang bernama wam awi (walia/lakawi). Kandang babi berupa bangunan berbentuk empat persegi panjang. Bagian dalam kandang terdiri dari petak-petak yang memiliki ketinggian sekitar 1,25 m dan ditutupi dengan papan. Bagian atas kandang berfungsi sebagai tempat penyimpanan kayu bakar dan alat-alat berkebun. Bagi suku Lani, babi berguna untuk:
Untuk dimakan dagingnya
tulang rusuknya digunakan untuk pisau pengupas ubi
menciptakan perdamaian bila ada perselisihan dan masalah
bayar maskawin
berpesta isti adat Dimata orang lani harta yang paling berahrga adalah Babi ’’wam’’.
Rumah Adat (kunume) Rumah adat suku Lani ukurannya tergolong mungil, bentuknya bulat, berdinding kayu dan beratap jerami disebut ongger. Namun, ada pula rumah yang bentuknya persegi panjang. Rumah jenis ini namanya Walia/lakawi (Dapur).
Bentuk Honai Bentuk Honai yang bulat tersebut dirancang untuk menghindari cuaca dingin ataupun karena tiupan angin yang kencang sehingga rumah yang sederhana ini dapat bertahan bertahun-tahun lamanya.
Atap Honai Honai memiliki bentuk atap bulat kerucut. Bentuk atap ini berfungsi untuk melindungi seluruh permukaan dinding agar tidak mengenai dinding ketika hujan turun. Penutup atap terbuat dari jerami yang diikat di luar kubah. Lapisan jerami yang tebal membentuk atap dome, bertujuan menghangatan ruangan di malam hari. Jerami cocok digunakan untuk daerah yang beriklim dingin. Karena jerami ringan dan lentur memudahkan suku Lani membuat atap serta jerami mampu menyerap air hujan.
Dinding & Bukaan/tungganggi Honai mempunyai pintu dan pintu ada dua yaitu pintu depan dan pintu belakan, Pintunya begitu pendek sehingga harus menunduk jika masuk ke rumah Honai. Di malam hari menggunakan penerangan kayu bakar di dalam Honai dengan menggali tanah di dalamnya sebagai tungku, selain menerangi bara api juga bermanfaat untuk menghangatkan tubuh. Jika tidur, mereka tidak menggunakan karpet atau kasur, mereka beralas rerumputan kering. Bahasa lani disebut ’’yanengga’’ yang dibawa dari kebun atau ladang. Umumnya mereka mengganti jika sudah terlalu lama karena banyak terdapat kutu babi.
Ketinggian Rumah Honai mempunyai tinggi 2,5-4 meter dengan diameter 4-8 meter. Rumah Honai ditinggali oleh 10-15 orang dan rumah ini biasanya dibagi menjadi 3 bangunan terpisah. Satu bangunan digunakan untuk tempat beristirahat para pria ‘’KUNUME’’ (tidur). Bangunan kedua untuk tempat Beristirahat kaum wanita.ome dan bangunan ketiga untuk dapur ‘’Walia/ dan. Rumah Honai juga biasanya terbagi menjadi 2 tingkat. Lantai dasar Disebut ‘’NGWEN PAGA dan lonteng disebut ‘’TILAPAGA’’ di hubungkan dengan tangga yang terbuat dari kayu. Biasanya pria tidur di Honai pria dan wanita biasanya tidur di Honai wanita. Dalam peraturan adat Honai, pria dan wanita (termasuk anak-anak) tidak boleh tidur disatu tempat secara bersamaan hukumnya tabu.
Fungsi Honai/KUNUME WONE Rumah Honai mempunyai fungsi antara lain:
Sebagai tempat tinggal
Tempat untuk merencanakan atau mengatur strategi perang agar dapat berhasil dalam pertempuran perang
Tempat menyimpan alat-alat perang
Tempat mendidik dan menasehati anak-anak lelaki agar bisa menjadi orang berguna pada masa depan
Tempat menyimpan alat-alat atau simbol dari adat orang lani yang sudah ditekuni sejak dulu
Filosofi Honai Filosofi bangunan Honai yang bentuknya bulat melingkar adalah :
Dengan kesatuan dan persatuan yang paling tinggi kita mempertahankan budaya yang telah diperthankan oleh nenek moyang kita dari dulu hingga saat ini.
Dengan tinggal dalam satu honai maka kita sehati, sepikiran dan satu tujuan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
Honai merupakan simbol dari kepribadian.
Bahan Pembuat Kebiasaan dari suku atau orang Lani membangun Honai yaitu mereka mencari kayu yang memang kuat dan dapat bertahan dalam waktu yang lama atau bertahun-tahun. Bahan yang digunakan sebagai berikut:
Kayu besi (tiru) digunakan sebagai tiang raja penyangga bagian tengah Rumah Honai.
Kayu buah besar
Kayu batu yang paling besar
Kayu buah sedang
Jagat (pinde)
Tali/kele
Alang-alang/ongger
Papan yang dikupas/kobar
Dan masih banyak yang tdk disebut
Tradisi Potong Jari Banyak cara menunjukkan kesedihan dan rasa duka cita ditinggalkan anggota keluarga yang meninggal dunia. Butuh waktu lama untuk mengembalikan kembali perasaan sakit akibat kehilangan salah satu anggota keluarga yang meninggal. Tidak hanya dengan menangis, tetapi memotong jari. Bila ada anggota keluarga atau kerabat dekat yang meninggal dunia seperti suami, istri, ayah, ibu, anak dan adik. Suku Lani Mereka beranggapan bahwa memotong jari adalah symbol dari sakit dan pedihnya seseorang yang kehilangan anggota keluarganya. Pemotongan jari juga dapat diartikan sebagai upaya untuk mencegah ‘terulang kembali’ malapetaka yangg telah merenggut nyawa seseorang di dalam keluarga yg berduka.
Mengapa Jari yang Dipotong Bagi jari bisa diartikan sebagai simbol kerukunan, kesatuan dan kekuatan dalam diri manusia maupun sebuah keluarga, walaupun dalam penamaan jari yang ada di tangan manusia hanya menyebutkan satu perwakilan keluarga, yaitu IBU JARI Akan tetapi jika dicermati perbedaan setiap bentuk dan panjang jari memiliki sebuah kesatuan dan kekuatan kebersamaan untuk meringankan semua beban pekerjaan manusia. Jari saling bekerjasama membangun sebuah kekuatan sehingga tangan kita bisa berfungsi dengan sempurna. Kehilangan salah satu ruasnya saja, bisa mengakibatkan tidak maksimalnya tangan kita bekerja. Jadi jika salah satu bagiannya menghilang, maka hilanglah kebersamaan dan berkuranglah kekuatan. Alasan lainnya adalah atau pedoman dasar hidup bersama dalam satu keluarga, satu marga, satu honai (rumah), satu suku, satu leluhur, satu bahasa, satu sejarah/asal-muasal, dan sebagainya. Kebersamaan sangatlah penting bagi masyarakat suku lani, lebih khususnya Tiom. Kesedihan mendalam dan luka hati orang yang ditinggal mati anggota keluarga, baru akan sembuh jika luka di jari sudah sembuh dan tidak terasa sakit lagi. Mungkin karena itulah masyarakat orang lani memotong jari saat ada keluarga yang meninggal dunia.
Sekian dan terima kasih atas membacakannya, jika ada kesalahan kata atau penulisan,saya menyampaikan mohon maaaf. Wa… wa…. Wa
Pesan Perjuangan Perempuan Myanmar Menjelang IWD 2021
“Emansipasi seharusnya memungkin perempuan menjadi manusia dengan esensinya yang sejati. Segala sesuatu dalam dirinya yang membutuhkan pernyataan dan aktivitas harus terpenuhi sebaik-baiknya: segala hambatan buatan harus dihancurkan, dan jalan menuju kebebasan yang kebih besar harus dibersihkan dari setiap jejak kepatuhan dan perbudakan berabad-abad.” (Emma Goldman)
Menjelang IWD 2021, dunia terperangah menyaksikan perjuangan revolusioner dari perempuan Myanmar. Menghadapi kudeta militer yang berlangsung sejak 1 Februari lalu, kaum perempuan bangkit menabur bara perlawanan ke sekitar. Ketika Presiden Myanmar bersama seabrek pimpinan Partai NLD (National League for Democracy) ditangkap, ditahan, dan tidak bisa berbat apa-apa, maka wanita dari segala usia mulai angkat bicara dan bergerak bersama rakyat lainnya. Kebohongan, teror, dan intimidasi tak membuatnya takut, membisu, dan meluruh; melainkan berani, marah, dan berontak terhadap kawanan tentara yang baru saja berkuasa.
Memang beberapa hari setelah elit-elit serdadu merebut takhta secara paksa, culas, dan brutal—suasana boleh saja tetap terasa biasa-biasa saja: tidak ada gumam, protes, apalagi amuk massa. Tetapi pada 5 Februari gelombang amarah mulai menjalar ke mana-mana. Ibu-ibu menjadi agen yang penyulutnya. Mula-mula mereka membuat Kota Yangoon gaduh begitu rupa. Dibakarnya kemarahan warga dengan metode sederhana tapi mampu memukau siapa saja: peralatan dapur ditabuhnya jadi genderang perang untuk mengetuk banyak telinga. Itulah mengapa panci, wajan, spatula, hingga sendok dipukul-pukul sambung-menyambung dari rumah-ke-rumah.
Peristiwa itu berlangsung dari malam hingga dini hari. Melalui tabuhan alat-alata dapur ibu-ibu bukan hanya berusaha membangunkan mata-mata yang tengah tertidur, tapi juga memanggil kembali elan gerakan yang selama ini menepi dan bersembunyi. Semenjak keberhasilkan meledakan Revolusi 1988, perlawanan rakyat Myanmar mengalami degradasi. Setelah Diktator U Ne Win terjungkal maka pergerakan meredup: kehidupan tenang, warga berpuas karena telah menang, hingga jalanan tidak lagi ramai dengan aksi. Massa-rakyat akhirnya tak terorganisir untuk mempertahankan gerakan ekstra-parlementer, melainkan digiring oleh kekuasaan baru dalam menghibahkan suara-suaranya dalam arena politik elektoral.
NLD sebagai partai yang berkuasa Pasca-Revolusi 1988 tak mampu tampil sebagai organ pendidik dan pemersatu rakyat untuk terus sadar, berjuang, dan bersetia di garis massa. Daripa mendorong kesadaran kelas pada rakyat, partai ini justru menjerat massa-rakyat dalam kubangan reformis hingga menjauhkan diri dari perubahan mendasar. Inilah mengapa revolusi tak berhasil mengeluarkan masyarakat dari kepercayaan-kepercayaan feodalnya dahulu. Makanya hingga sekarang Aung San Suu Kyi masih diyakini sebagai Ratu Adil bagi banyak warga.
Diselimuti keyakinan naïf itu maka kehidupan rakyat terus percaya pada perbaikan-perbaikan reformisme yang palsu. Maka Tahun 2020, demokrasi elektoral digelar begitu meriah. Beratarung di dalamnya dua kekuatan borjuasi: Partai NLD yang liberal dan Partai USDP yang konservatif. Pertarungan pun dimenagkan oleh NLD, tapi USDP tidak mau menerima hingga Pemilu 2020 dituding berisi praktik manipulatif. Dimulai dari tuduhan-demi-tduhan parati oposisi yang didukung oleh elit-elit serdadu kemudian menggunakan cara keji: kudeta militer.
Dalam sejarah perebutan kekuasaan, kudeta militer di Myanmar telah terjadi dua kali: 1962 dahulu dan 2021 kini. Kudeta yang pertama telah sempat mengarahkan pemerintahan menjadi fasis dengan kepemimpinan seorang diktator. Hanya Revolusi 1988 berhasil membuka pintu masuknya kekuasaan yang cenderung demokratis dalam menggantikan penguasa fasisme militer. Tetapi ketidakmampuan pemimpin baru untuk mengembalikan tentara-tentara ke barak memberi kesempatan kepada sisa-sisa rezim lama untuk mengonsolidasikan kekuatannya. Didukungnya USDP buat memenangkan Pemilu 2020 menggunakan kudeta militer merupakan momen kebangkitan mereka.
Di tengah lengangnya pergerakan, kebangkitan neo-fasisme militer kemudian dihadang sulutan perlawanan dari ibu-ibu menggunakan beragam alat perdapuran. Dalam kepungan militer, para IRT soalnya menjadi kalangan yang pertama kali mengalami kegusaran. Aktivitas rumah tangga dirasakan banyak hambatan. Mereka bukan saja merasakan tidak lagi mudah mengurusi keperluan anak, tapi juga kesulitan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dapur. Aksi-aksi teror dan intimidasi yang dilancarkan tentara soalnya tak sekedar membahayakan keselamatan, melainkan pula melemahkan perekonomian keluarga.
Kudeta militer yang berlangsung dalam suasana wabah corona semakin mendorong banyaknya rumah tangga alami kesulitan hidup hingga berujung kemelaratan. Selama berlangsungnya pandemi WB (World Bank) mendata: ekonomi Myanmar merosot tajam. Pertumbuhan ekonomi 2019 yang mencapai 6,8 persen tapi memasuki bencana virus 2020 hanya mampu bertumbuh 1,7 persen. Menghadapi kebrutalan militer, kini tumbuh kembang ekonomi akan tetap rendah, bahkan semakin menurun. WB memproyeksikan angka tumbuhnya perekonomian Myanmar tak bakal melebihi 2 persen. Keadaan inlah yang diperkirakan mengakibatkan kemiskinan melompat ketinggian: dari 22,4 persen pada periode 2018-2019 menjadi 27 persen ketika 2020-2021.
Maka menyembulnya aneka kekerasan selama kudeta militer, percepatan kemiskinan disadari ibu-ibu begitu nyata. Terutama dengan melemahnya perekonomian keluarga hingga kosongnya kebuthan-kebutuhan dapurnya. Tidak tersedianya sayur, buah, ikan, dan beragam bahan untuk dimasak bahkan memaksa para IRT mengalihkan fungsi peralatan dapur; dari yang sebelumnya dipakai mengolah santapan keluarga menjadi alat yang memberi tanda tentang bahaya. Pada malam 5 Februari: diawali aksi mereka yang meributkan kota dengan memukul panci dan wajan, maka banyak kalangan berhasil dibangunkan dari tidur panjangnya.
Mendengarkan seruan dari dapur ibu-ibu itulah mengapa—saat masuk 6 Februari pagi—pegawai-pegawai negeri yang bermayoritaskan perempuan terdorong melancarkan pemogokan di kantor-kantornya. Dendangan alat-alat dapur seolah telah mampu menyadarkan warga: bukan saja tentang situasi sekitarnya yang mulai dirayapi kekerasan dari mana-mana, tapi juga kondisi banyak rumah tangga yang sedang terancam hidup miskin dan susah. Kabar ini pada malam harinya disampaikan lagi dengan penggunaan alat-alat dapur serupa, tapi dikukan di lingkungan terbuka.
Kali itu IRT bergerak mengajak anak-anak dan suaminya hingga menyentuh jumlah berlimpah. Jalanan, jembatan, gang, dan lorong-lorong Kota Yangon dipenuhi oleh mereka. Di tengah gulita bebunyian alat dapur bergemuruh ke mana-mana. Polisi dan tentara kemudian datang membubarkan paksa sampai menangkap massa-rakyat secara sewenang-wenang. Kini aparat mulai semakin gila menampilkan kebrutalan. Maka sehari setelahnya (7/2) mogok kembali dilakukan. Sekarang bukan hanya oleh pegawai negeri maupun guru-guru, tapi juga banyak pelajar SMP dan SMA.
Hari selanjutnya (8/2), suara-suara peralatan ibu-ibu tidak saja berhasil menyentuh kantor dan sekolah tapi juga pabrik-pabrik. Seperti IRT, PNS, dan pelajar; buruh kemudian mulai mogok. Walau belum terorganisir rapi, tapi sejak itu gerakan perlawanan yang parsial dan kecil kemudian meluas dan membesar. Hari-hari lalu selalu diisi dengan suara protes, gugatan dan tuntutan terhadap penguasa. Pada 15 Februari, gerakan anti-kudeta militer lalu diikuti oleh seabrek mahasiswa. Maka kampus di mana-mana menjadi benteng pertahanan. Dalam kampus dilakukan pertemuan dengan pelbagai elemen gerakan hingga seruan-seruan aksi diterbitkan.
Pada 17 Februari, 100.000 massa membanjiri daerah Sule. Dan ribuan lainnya berkumpul di dekat Universitas Yangon, Bank Sentral, Kedutaan Besar AS, dan Kantor Perwakilan PBB. Kini aksi massa yang berpekan-pekan dan meletus di mana-mana menggoncang berhasil menggoncang takhta penguasa. Maka kekuasaan neo-fasis beraksi dengan menerjunkan aparatus represif negara dalam jumlah raksasa. Sampai 5 Maret, pengerahan pasukan itu telah membunuh 57 orang dan menangkap serta menahan 1.500 demonstran. Dengan mengerahkan pasukan bersenjata, kekuasaan mengorbankan banyak mahasiswa, pelajar, buruh, ibu-ibu dan wanita-wanita muda: mereka bukan saja menjadi dikriminalisasi karena ikut demonstrasi, tapi juga mendapatkan penganiayaan, pelecehan seksual, bahkan penembakan di lokasi aksi.
Ma Kyal Sin adalah salah satu mahasiswi yang menjadi korban tewas di tangan serdadu. Perempuan berusia 19 tahun ini mati akibat tertembak peluru tajam di kepalanya. Berita kematiannya kini telah menyebar ke segala penjuru. Viralnya gadis muda itu tak sekedar karena dirinya cantik dan mempesona, tapi terutama berkat perjuangannya yang begitu heroik. Seperti paramedis jalanan, dia menyelinap sana-sini dalam barisan bukan demi berfoto narsis untuk diviralkan. Melainkan: guna memberi semangat dan bantuan kepada massa, terutama menolong yang mengalami luka-luka. Maka di belakang tasnya bukan hanya ditempel tanda pengenal golongan darah, namun pula di dalamnya diisi dengan obat-obatan seperlunya.
Sementara untuk memberi harapan kepada kawan-kawan sesama massa aksi, dirinya mengenakan baju bertuliskan kalimat sugestif yang diperkenalkan film Three Idiots: EVERY THING WILL BE OKAY (SEMUANYA AKAN BAIK-BAIK SAJA). Besar dalam keluarga yang tergolong berpenghasilan kecil membuatnya tahu betul apa arti penderitaan dan kemiskinan. Maka diikutinya aksi serupa pendirian pejuang anti-kudeta militer lain: bukan untuk mengamankan kekuasaan Aung San Suu Kyi dan elit-elit NLD, tapi menyelamatkan demokrasi dan kehidupan rakyat dari pemerintahan neo-fasisme. Mengetahui sejarah negerinya yang pernah dikuasai penuh oleh militer, tentu membuat dirinya mengerti dan sadar akan akibat yang dapat ditimbulkan kekuasaan pasukan bersenjata.
Maka melalui gerakan anti-kudeta militer, dirinya percaya bisa mempertahankan demokrasi dari terkaman senjata. Hanya banalitas kejahatan aparat bersenjata tiba begitu cepat menghampirinya. Kala itu bahaya kekuasaan militer tak saja dibuktikan dengan apa yang dirasakan kawan-kawan demonstrannya di sekitarnya. Tetapi bahkan dialaminya sendiri dengan kematiannya. Saat demonstrasi berjalan, dirinya mencoba menolong teman-teman sekitarnya yang terkena gas air mata. Itulah mengapa dia bergerak cekatan: menerabas gumpalan asap dan membuka sebuah kran air untuk membasahi, membersihkan, dan menormalkan penglihatan banyak massa. Namun tiba-tiba peluru tajam menembus kepalanya hingga badannya terpelanting jatuh. Meski ia langsung mati di lokasi, tapi ditemukan catatan berharga. Isinya adalah pemberitahuan mulia: bahwa organ-organ tubuhnya yang masih berfungsi diberikan kepada orang-orang yang membutuhkannya.
Dengan rekam perjuangan dan sikap seperti itulah maka di mana-mana gambar Ma Kyal Sin bukan hanya ditangisi, melainkan pula menjadi sosok dan tindakannya dipetik tauladan dan inspirasi. Kini guliran Revolusi Myanmar 2021, persis kata Ali Syari’ati: setiap revolusi tidak hanya menimbukan luka dan darah seorang martit, tapi juga menebar pesan historis. Pesan sejarah itu berisi kata-kata jelas dan tegas: bahwa penindasan tidak boleh dibiarkan dan kebenaran serta kebaikan tidak boleh menyerah pada kebohongan dan kejahatan.
Melalui buku Do’a, Tangisan dan Perlawanan, Syaria’ti menggambarkan pesan itu dulu pernah disampaikan oleh Imam Husein dalam Revolusi Karbala. Maka perlawanan Husein bersama 72 sahabatnya terhadap 4.000 pasukan Yazid bukan upaya bodoh, bunuh diri, dan sia-sia. Melainkan sebuah aksi langsung dan pengorbanan yang berusaha menyampaiakan pesan untuk para pejuang kebenaran di masa depan. Kini kematian Ma Kyal Sin juga mebawa pesan serupa. Rasa-rasanya: menjelang IWD 2021 pesan Kyal Sin tidak saja untuk seluruh kaum tertindas dari beragam lini kehidupan, tapi lebih-lebih buat kaum perempuan yang tertindas sepanjang sejarah. Bahwa mereka harus bangkit melawan dan merubah keadaan.
Meski dari fase komunal primitif hingga kapitalisme; wanita selalu berada pada posisi yang paling buncit, tapi mereka punya peran penting dalam sejarah. 104 tahun lalu, Revolusi Rusia dipicu oleh mereka. Persis dalam Revolusi Myanmar sekarang, dulu kaum perempuan memiliki peran penting dalam perjuangan revolusioner. Jika sejak 5-6 Februari 2021 di Myanmar, ibu-ibu menyulut api perlawanan yang menjalar ke mana-mana. Dahulu 23 Februari-8 Maret 1917 di Uni Soviet, para perempuan pekerja juga berbuat serupa: pertama kali turun ke jalan, menarik simpati dan dukungan rakyat, hingga mampu membangun gerakan besar dalam menjatuhkan kekuasaan Tsar. Bahkan dalam sejarahnya, wanita memiliki peran yang sangat penting dan tak bisa dilakukan pria. Melalui Wanita Memicu Revolusi Rusia, Fanny Labelle merekam semua:
“Pekerja perempuan memainkan peran penting, bergaul dengan tentara dan menghasut mereka dalam mengarahkan bayonet mereka pada musuh bersama mereka. Peran kunci perempuan dalam Revolusi Rusia ini sebenarnya bukan hal baru. Wanita seringkali menjadi yang pertama memasuki perjuangan dan yang terakhir pergi. Sebagai kelompok tertindas, mereka memiliki segalanya untuk dimenangkan dari penghapusan sistem kapitalis dan perjuangan untuk mendirikan sosialisme….”
Menjelang Hari Perempuan Internasional 8 Maret nanti, perjuangan ibu-ibu, pegawai-pegawai wanita, mahasiswi bersama seluruh permpuan dan laki-laki Myanmar pada gerakan anti-kudeta militer kembali menorehkan peran penting kaum perempuan dalam sejarah. Bahkan dari perjuangan perempuan Myanmar, lebih-lebih yang dilakukan para IRT dan Kyal Sin—perempuan diberi tauladan radikal: wanita harus bersekutu dengan seluruh kaum tertindas, tanpa memadang agama, suku, ras, apalagi jenis kelamin. Maka kepada wanita di mana-mana seolah diberitahukan: bahwa perjuangan kita tidak sebatas menggugat ketidakadilan gender dan menentang kekerasan maupun pelecehan seksual, tapi juga melawan fasisme, militerisme, dan segala bentuk kekuasaan otoritarian.
Bahkan dalam praktik pembebasan yang dilakukan Kyal Sin itu sangat mirip dengan jalan juang seorang anarkis: rela melakukan pengorbanan diri demi merebut kebebasan dari tangan sang tiran. Mati sebagai martir lebih terhormat ketimbang hidup dalam ketakutan dan bungkam tanpa perlawanan. Inilah kenapa perjuangan pembebasan bagi Kyal Sin itu, termasuk emansipasi wanita—dapat dilukiskan dengan pernyataan Bakunin yang dikutip oleh Sean M. Sheehan dalam Anarkisme; Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan:
“Aku bebas hanya ketika semua orang lain di sekelilingku—baik laki-laki maupun perempuan—sama-sama bebasnya. Kebebasan orang lain, alih-alih membatasi atau membatalkan kebebasanku, justru sebaliknya merupakan kondisi dan konfirmasi yang diperlukannya. Aku menjadi bebas dalam pengertiannya yang sejati hanya karena kemerdekaan orang-orang lain, begitu rupa sampai semakin banyak jumlah orang-orang bebas di sekelilingku, makin dalam dan makin besar serta makin ekstensif kemerdekaan mereka, maka makin dalam dan makin luas pula kemerdekaanku.”
Kini pertanyaannya: sekarang adakah perempuan yang berani melanjutkan perjuangan Ma Kyal Sin? Mungkinkah kita hanya menyebarkan fotonya lalu mengenang dan menangisinya? Rasa-rasanya tidak begitu! Tidakkah kamu mengerti bahwa rakyat Indonesia juga membutuhkan perempuan berjiwa bebas, imaginatif, dan nekad seperti itu. Sudah tidak bisa dibiarkan kriminalisasi, penggusuran, kekerasan dan pelecehan seksual berjamuran di mana-mana. Bahkan lebih tak mungkin lagi kalau kita biarkan penguasa negeri ini menindas rakyat-bangsa lainnya. Bukankah di West Papua sana persis apa yang terjadi dengan Myanmar?
Bahkan rasa-rasanya kondisi di Bumi Kasuari melebihi apa yang terjadi Negeri Pagoda! Di sana penganiayaan, pemerkosaan, perampasan kemerdekaan, penculikan dan penghilangan paksa, bahkan pembunuhan dan pembantaian telah berlangsung lama hingga mencatatkan korban yang jumlahnya ribuan jiwa. Di situ seolah tidak demokrasi apalagi hak asasi manusia. Itulah mengapa TNI-Polri bertugas di bawa langit Cendrawasih bkan untuk menegakan hukum dan keadilan, melainkan memekarkan kejahatan kemanusiaan dan merawat ketidakadilan.
Aparat bersenjata di semua negara memang bajingan. Tugas mereka bukan untuk melindungi rakyat, tapi melayani kepentingan kekuasaan. Makanya polisi dan tentara di Myanmar dengan Indonesia tak ada bedanya: sama-sama bebal, banal, dan brutal. Di Myanmar: selama permulaan 2021, ribuan massa aksi ditangkap dan puluhan dibunuh. Di Indonesia: sejak 2019-2020, bahkan 2021 ini ribuan demonstran juga bernasib serupa, bahkan pula ada yang terbunuh. Kini kita malah semakin dipertontonkan dengan intimidasi, teror, dan kriminalisasi yang berlangsung di segala daerah. Kalau di Papua 13 aktivis KNPB dibui paksa lalu dianiaya sampai 1 orang di antaranya mati, maka di Jakarta dan Semarang aktivis-aktivis AMP ikut dikriminalisasi begitu rupa: ada yang ditangkap sewaktu aksi, disergap di asrama, hingga diseret paksa dari kamar kosnya segala
Kepada mahasiswa Papua, negara mendekatinya dengan penuh diskriminasi, teror, dan intimidasi. Di negeri ini mereka tak bisa hidup tenang apalagi mendapat kebebasan sejati. Maklum: sejak 19 Desember 1961 kelas penguasa Indonesia mendekati orang asli Papua sebagai bangsa terjajah. Kini praktik-praktik kolonialistik berlangsung di depan mata kita. Dalam IWD 2021 nanti, perempuan sudah waktunya bukan hanya memperjuangkan pembebasan kaumnya sendiri melainkan pula bangsa tertindas. Perempuan Myanmar—terutama Ma Kyal Sin memberi tauladan atas perjuangan yang begitu: melawan kudeta militer untuk membebaskan semua orang dari kekuasaan neo-fasis. Atas nama kesetaraan dan kebebasan—dia memberi pelajaran besar: tidak takut mati selama apa yang dilakukannya adalah benar
Sekarang kita butuh perempuan seperti demikian. Mereka yang mudah tersentuh melihat ketidakadilan dan penindasan. Jika betul kita bersimpati dan terilhami oleh perjuangan Ma Kyal Sin, maka sudah waktnya kita melanjutkan apa yang sedang diperjuangkannya. Dari Kyal Sin kita melihat bahwa yang dicita-citakannya adalah tatanan yang adil dan memansiakan manusia. Maka emansipasi perempuan baginya: tidak sebatas untuk dirinya sendiri, tapi semua manusia. Itulah mengapa perjuangannya tak memisahkan diri dari laki-laki, melainkan berjuang bersama selama yang dilawan dan dicita-citakan juga sama. Sepertinya dia pernah membaca apa yang ditulis Emma Goldman dalam Anarkisme; Apa Sesungguhnya yang Diperjuangkan:
“Kebebasan dan kesetaraan perempuan! Harapan dan aspirasi macam apa yang dibangkitkan dari kata-kata ini saat pertama kali diucapkan oleh segelintir jiwa yang paling mulia dan berani di masa itu. Matahari yang bersinar sempurna dan kemuliaan akan segera menyambt dunia baru; dalam dunia ini perempuan bebas menentukan takdirnya sendiri—sebuah cita-cita yang tentunya membuthkan keteguhan, keberanian, ketekunan, dan usaha tiada henti dari sejumlah pelopor baik perempuan maupun laki-laki, yang telah mempertaruhkan segalanya untuk melawan dunia yang dipenuhi oleh prasangka dan ketidaktahuan.
Sudah tak terhitung teman dan keluarga yang bercerita, betapa sulitnya membangun hubungan cinta di abad 21 ini. Banyak yang kandas di tengah jalan, karena tekanan keluarga.
Di Indonesia, jodoh tak ada di tangan pribadi. Keluarga amat sangat menentukan.
Soal agama dan ras menjadi unsur penting. Cinta dan komitmen urusan belakangan.
Perbedaan agama menghancurkan cinta dan komitmen banyak pasangan. Perbedaan ras menyusul di belakangnya.
Tak hanya itu, harta pun menjadi salah satu patokan utama. Jika agama, ras dan harta tak sesuai, orang tua siap menekan dan menindas.
Yang dipermainkan adalah rasa bersalah dan konsep dosa yang primitif. Anak yang berani menentang orang tua akan dituduh durhaka, bahkan masuk neraka yang sesungguhnya tak pernah ada.
Karena cintanya pada orang tua, dan lemahnya daya akal sehat, banyak anak tunduk tak berdaya. Mereka hidup dalam kepalsuan demi menghindari tuduhan durhaka, ataupun ancaman neraka yang hanya mimpi kosong belaka.
Dampaknya
Ada empat hal yang perlu diperhatikan. Pertama, dengan pola hubungan semacam ini, derita yang dihasilkan begitu besar. Banyak hubungan hasil paksaan orang tua berakhir dalam nestapa.
Perselingkuhan terjadi. Kekerasan dalam rumah tangga menghantui keluarga, dan menyerang buah hati yang ada.
Kesehatan mental anggota keluarga terganggu. Stress, depresi dan bahkan bunuh diri menjadi hal biasa yang ditutupi dari mata masyarakat luas.
Tak heran, secara global, perceraian menyentuh angka 50 persen lebih. Pernikahan lalu menjadi lembaga sia-sia yang hanya menghasilkan derita.
Dua, pada tingkat yang lebih luas, pola menikah berdasarkan ras, agama dan harta ini memecah belah bangsa. Indonesia dan Pancasila menjadi slogan belaka, tanpa makna.
Masyarakat terpecah di antara kelompok-kelompok kecil yang saling curiga satu sama lain. Semangat pluralitas dan multikulturalitas, yang menjadi ciri terpenting Indonesia, pun terancam lenyap.
Tiga, pola hubungan semacam ini adalah sebentuk rasisme. Ras, agama dan tingkat ekonomi tertentu dianggap lebih luhur dari yang lainnya.
Rasisme adalah kutukan peradaban modern yang lahir dari Eropa, dan kemudian menyebar ke seluruh dunia. Di Indonesia, karena lemahnya pendidikan berpikir kritis, rasisme tersebar begitu dalam dan luas.
Bangsa rasis adalah bangsa yang terpecah. Konflik dan bahkan pembunuhan massal dengan amat mudah terjadi, jika ini terus diabaikan dalam sunyi.
Empat, pola hubungan dangkal semacam ini adalah sebuah proses dehumanisasi. Kemanusiaan orang diukur semata dari ras, agama maupun tingkat ekonominya.
Ini adalah pandangan sesat yang telah banyak menghasilkan derita dan perang di masa lalu. Di abad 21, pandangan sesat semacam ini sudah layaknya dibuang jauh-jauh.
Mengapa?
Ada dua hal yang menjadi penyebab. Pertama, ketakutan adalah akar dari kesempitan berpikir. Hubungan keduanya bersifat timbal balik.
Pluralitas mengerikan, karena ia penuh ketidakpastian. Kesamaan, baik agama, ras maupun kelas ekonomi, menyediakan ilusi keamanan semu.
Banyak orang tua jatuh dalam kesempitan berpikir dan ketakutan dangkal semacam itu. Mereka menekan dan menindas anaknya untuk hidup sesuai dengan keinginannya. Inilah cinta palsu yang menindas.
Dua, semua ini berakar lebih pada lemahnya sistem politik, ekonomi dan pendidikan kita di Indonesia. Negara tak menghadirkan rasa aman, dan tak mencerdaskan rakyatnya.
Sebaliknya, negara justru kerap menjadi penghalang kemakmuran dan kecerdasan warganya. Elit politik tercabut jauh dari kepentingan rakyat yang sesungguhnya, sehingga membuat kebijakan-kebijakan yang merusak.
Alhasil, orang berharap penuh pada keluarga. Agama, ras dan harta lalu seolah menjadi yang utama untuk menjaga keutuhgan serta keamanan keluarga.
Berani menentang keluar berarti berani berkhianat. Orang lalu dilepas ke rimba masyarakat luas, tanpa perlindungan lagi dari keluarga.
Padahal, jika diperhatikan lebih jeli, keluarga kerap kali menjadi sumber derita dan masalah besar dalam hidup banyak orang. Hanya ketakutan dan kesempitan berpikir yang seringkali mengikat banyak keluarga di Indonesia.
Lalu Bagaimana?
Pada tingkat yang lebih luas, jika sistem politik, ekonomi dan pendidikan kokoh, maka rakyat akan merasa aman, cerdas dan makmur. Banyak derita dan masalah sosial akan terhindarkan secara alami.
Orang tak perlu bersandar buta pada keluarga yang menindas. Negara siap merawat semua warganya, tanpa syarat dan tanpa kecuali.
Jadi, sistem politik, pendidikan, ekonomi dan pola mencintai manusia tetap tak terpisahkan. Negara yang bermutu akan melahirkan keluarga yang bermutu, yang tak akan menindas atas nama kepalsuan cinta, apalagi menindas atas nama kesempitan berpikir beragama.
Cinta lalu mengambil bentuknya yang sejati. Ia berakar pada kesadaran, dan memanusiakan manusia.
Jayapura, Jubi – Ketua Sinode Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua, Pdt. Dr. Benny Giay menyatakan aparat keamanan di Papua semakin represif, seperti akan menutup setiap ruang bagi para pihak di Papua untuk menyampaikan aspirasinya.
Kesimpulan itu diambil Pdt Benny Giay, sebab ia sebagai pimpinan salah satu sinode gereja di Tanah Papua pun tak diberi ruang oleh kepolisian Polres Kota Jayapura, saat akan bertemu anggota DPR Papua di kantor DPR Papua, Senin (16/8/2021).
“Saya kira, ini tanda-tanda aparat ke depan akan semakin represif. Mesti ada paradigma baru bagaimana negara dan aparatnya melihat orang Papua,” kata Pdt Benny Giay kepada Jubi, usai dari kantor DPR Papua.
Kegiatan Pelantikan Bandan Pengurus periode 2021-2023 yang bertempat di .Sekretariat Asrama Tolikara jalan kelapa Gading lll jakarta Timur waktu Indonesia barat wib jam 11 00 siang .
1.ENDITON BEMBOK sebagai ketua korwil
2.ELON WENDA Wakil ketua
3.DES WAKUR sekretaris 1
4. KORNI WANIMBO sekretaris 2
5.MOSES KOGOYA bendahara
Dalam pelantikan ini Enditon mengatakan bawah dalam memimpin ikatan ini kerja sama selaku sebagai Ketua korwil saya mengharapkan kerja sama dan dukungan dari semua pihak baik ,Pengarah penasehat dan senior-senior dan juga semua anggota Ikatan Keluarga Besar Pelajar dan Mahasiswa Pengununggan Tolikara (IKB-PMPT). dukungan dapat menguatkan dalam memimpin wadah ini ungkap.Enditon Bembok lebih mengharapkan lagi kepada kita semua untuk terus membangun komunikasi yang baik dalam,Menjalankan program kerja nantinya.
Pengurus memiliki bertangung jawab untuk menyiapkan ruang bagi anggota sehingga ada perubahan muncul buat anggota (IKB-PMPT) kedepanya pungkas Enditon bembok*
Bagi mahasiswa Papua, Joice Etulding Eropdana, rasisme sudah menjadi makanan sehari-hari. Mulai dari tatapan sinis sampai cemooh merendahkan.
“Tidak hanya dari ucapan-ucapan yang membawa isi kebun binatang dan lain sebagainya, tatapan sinis pun itu selalu kami alami. Dan itu jadi sesuatu yang membekas, selalu dialami mahasiswa Papua yang bersekolah di luar Papua,” jelas mahasiswi yang berkuliah di Bali ini.
Dalam diskusi ‘Papuan Lives Matter’ (Nyawa Orang Papua itu Penting), Jumat (5/6) siang, Joice mencontohkan kasus rasisme di Surabaya pada 2019 lalu. Saat itu, sejumlah mahasiswa di asrama mahasiswa Papua mendapatkan ujaran merendahkan. Namun mereka dituding sebagai pembuat onar.
Seorang mahasiswa Papua dengan wajah dicat bendera “Bintang Kejora” meneriakkan slogan-slogan dalam unjuk rasa di depan Istana Kepresidenan di Jakarta, 28 Agustus 2019.
“Padahal yang mengeluarkan ujaran rasial, ujaran kebencian itu adalah orang-orang di Surabaya. Ada ormas dan ada pihak dari kepolisian yang merupakan institusi negara ada di situ, dan mereka yang mengeluarkan ujaran rasial,” tegasnya lagi.
Menurut Joice, orang Papua Hanya ingin menyuarakan berbagai pelanggaran di Bumi Cenderawasih.
“Tentang kekerasan di Papua, pelanggaran HAM di Papua. Saat kami ingin memberikan pendapat di ruang publik, itu kami direpresi oleh aparat. Dan berbagai ujaran rasial itu selalu kami terima, itu bukan hal yang satu dua kali kami alami, tapi sering kami alami,” tambahnya.
Puji Tuhan proses pencetakan 5.000 eksemplar Alkitab PB TSI Edisi 3 segera rampung. Tanggal 10 bulan ini tim kami sudah bisa mulai mendistribusikannya ke berbagai daerah. Sebagaimana sudah saya sampaikan dalam bulan lalu bahwa 5.000 Alkitab PB TSI ini akan kami bagikan secara GRATIS kepada siapa pun jemaat Tuhan dari berbagai daerah. Syaratnya: Pemesan cukup membayar ongkos kirim ke alamatnya. Puji Tuhan, walaupun masih dalam proses pencetakan namun sudah ada 16 orang yang memesan dari berbagai daerah untuk jemaat-jemaat mereka. Mereka sudah menyerahkan ongkos kirim kepada kami, sehingga tanggal 10 nanti tim kami langsung mengirim ke masing-masing alamat yang sudah didata. Dan kalau ternyata 5.000 eksemplar TSI ini cepat habis, kami memuji Tuhan dan berdoa supaya bisa mencetak 10.000 lagi! Jadi, kalau Bapak Ibu ingin mendapatkan Alkitab PB TSI, baik untuk pribadi maupun jemaat atau komunitas yang dilayani, segera hubungi kami, atau lihat informasi lengkap cara memesan PB TSI gratis melalui tautan berikut:
Doakanlah supaya 5.000 eksemplar PB TSI 3.0 bisa terdistribusi dengan baik, terutama supaya bisa sampai di tangan orang yang benar-benar membutuhkannya.
Terima kasih Bapak, Ibu / Saudara sudah menjadi sahabat setia Albata dalam doa. 1 Tesalonika 1:2 (TSI)Setiap kali kami mengingat kalian di dalam doa kami,kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kalian semua. Balazi GuloKetua Albata Informasi tambahan:
Bagi Bapak/Ibu yang ingin mendengar audio TSI lewat HP silahkan download aplikasinya melalui Play Store, atau dengan mengklik tautan ini.
Silakan melihat foto-foto pendistribusian TSI di sini. (Bagi Bapak/Ibu yang ingin melihat lebih banyak foto pendistribusian silakan hubungi kami di alamat email ketua@bahasakita.net)
Informasi cara mendukung pelayanan Albata dan pengadaan Alkitab TSI klik di sini.
Selamatkan Bagsa West Papua dari ancaman kepunahan penduduk orang asli papua Dengan cara mendidik, menyadarkan, diskusi, membaca, menulis, menyebarkan dan Aksi Sampai Papua Merdeka
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.