PAPUA WONE GOREK

Pesan perjuangan perempuan myanmar

Pesan Perjuangan Perempuan Myanmar Menjelang IWD 2021

“Emansipasi seharusnya memungkin perempuan menjadi manusia dengan esensinya yang sejati. Segala sesuatu dalam dirinya yang membutuhkan pernyataan dan aktivitas harus terpenuhi sebaik-baiknya: segala hambatan buatan harus dihancurkan, dan jalan menuju kebebasan yang kebih besar harus dibersihkan dari setiap jejak kepatuhan dan perbudakan berabad-abad.” (Emma Goldman)

Menjelang IWD 2021, dunia terperangah menyaksikan perjuangan revolusioner dari perempuan Myanmar. Menghadapi kudeta militer yang berlangsung sejak 1 Februari lalu, kaum perempuan bangkit menabur bara perlawanan ke sekitar. Ketika Presiden Myanmar bersama seabrek pimpinan Partai NLD (National League for Democracy) ditangkap, ditahan, dan tidak bisa berbat apa-apa, maka wanita dari segala usia mulai angkat bicara dan bergerak bersama rakyat lainnya. Kebohongan, teror, dan intimidasi tak membuatnya takut, membisu, dan meluruh; melainkan berani, marah, dan berontak terhadap kawanan tentara yang baru saja berkuasa.

Memang beberapa hari setelah elit-elit serdadu merebut takhta secara paksa, culas, dan brutal—suasana boleh saja tetap terasa biasa-biasa saja: tidak ada gumam, protes, apalagi amuk massa. Tetapi pada 5 Februari gelombang amarah mulai menjalar ke mana-mana. Ibu-ibu menjadi agen yang penyulutnya. Mula-mula mereka membuat Kota Yangoon gaduh begitu rupa. Dibakarnya kemarahan warga dengan metode sederhana tapi mampu memukau siapa saja: peralatan dapur ditabuhnya jadi genderang perang untuk mengetuk banyak telinga. Itulah mengapa panci, wajan, spatula, hingga sendok dipukul-pukul sambung-menyambung dari rumah-ke-rumah.

Peristiwa itu berlangsung dari malam hingga dini hari. Melalui tabuhan alat-alata dapur ibu-ibu bukan hanya berusaha membangunkan mata-mata yang tengah tertidur, tapi juga memanggil kembali elan gerakan yang selama ini menepi dan bersembunyi. Semenjak keberhasilkan meledakan Revolusi 1988, perlawanan rakyat Myanmar mengalami degradasi. Setelah Diktator U Ne Win terjungkal maka pergerakan meredup: kehidupan tenang, warga berpuas karena telah menang, hingga jalanan tidak lagi ramai dengan aksi. Massa-rakyat akhirnya tak terorganisir untuk mempertahankan gerakan ekstra-parlementer, melainkan digiring oleh kekuasaan baru dalam menghibahkan suara-suaranya dalam arena politik elektoral.

NLD sebagai partai yang berkuasa Pasca-Revolusi 1988 tak mampu tampil sebagai organ pendidik dan pemersatu rakyat untuk terus sadar, berjuang, dan bersetia di garis massa. Daripa mendorong kesadaran kelas pada rakyat, partai ini justru menjerat massa-rakyat dalam kubangan reformis hingga menjauhkan diri dari perubahan mendasar. Inilah mengapa revolusi tak berhasil mengeluarkan masyarakat dari kepercayaan-kepercayaan feodalnya dahulu. Makanya hingga sekarang Aung San Suu Kyi masih diyakini sebagai Ratu Adil bagi banyak warga.

Diselimuti keyakinan naïf itu maka kehidupan rakyat terus percaya pada perbaikan-perbaikan reformisme yang palsu. Maka Tahun 2020, demokrasi elektoral digelar begitu meriah. Beratarung di dalamnya dua kekuatan borjuasi: Partai NLD yang liberal dan Partai USDP yang konservatif. Pertarungan pun dimenagkan oleh NLD, tapi USDP tidak mau menerima hingga Pemilu 2020 dituding berisi praktik manipulatif. Dimulai dari tuduhan-demi-tduhan parati oposisi yang didukung oleh elit-elit serdadu kemudian menggunakan cara keji: kudeta militer.

Dalam sejarah perebutan kekuasaan, kudeta militer di Myanmar telah terjadi dua kali: 1962 dahulu dan 2021 kini. Kudeta yang pertama telah sempat mengarahkan pemerintahan menjadi fasis dengan kepemimpinan seorang diktator. Hanya Revolusi 1988 berhasil membuka pintu masuknya kekuasaan yang cenderung demokratis dalam menggantikan penguasa fasisme militer. Tetapi ketidakmampuan pemimpin baru untuk mengembalikan tentara-tentara ke barak memberi kesempatan kepada sisa-sisa rezim lama untuk mengonsolidasikan kekuatannya. Didukungnya USDP buat memenangkan Pemilu 2020 menggunakan kudeta militer merupakan momen kebangkitan mereka.

Di tengah lengangnya pergerakan, kebangkitan neo-fasisme militer kemudian dihadang sulutan perlawanan dari ibu-ibu menggunakan beragam alat perdapuran. Dalam kepungan militer, para IRT soalnya menjadi kalangan yang pertama kali mengalami kegusaran. Aktivitas rumah tangga dirasakan banyak hambatan. Mereka bukan saja merasakan tidak lagi mudah mengurusi keperluan anak, tapi juga kesulitan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dapur. Aksi-aksi teror dan intimidasi yang dilancarkan tentara soalnya tak sekedar membahayakan keselamatan, melainkan pula melemahkan perekonomian keluarga.

Kudeta militer yang berlangsung dalam suasana wabah corona semakin mendorong banyaknya rumah tangga alami kesulitan hidup hingga berujung kemelaratan. Selama berlangsungnya pandemi WB (World Bank) mendata: ekonomi Myanmar merosot tajam. Pertumbuhan ekonomi 2019 yang mencapai 6,8 persen tapi memasuki bencana virus 2020 hanya mampu bertumbuh 1,7 persen. Menghadapi kebrutalan militer, kini tumbuh kembang ekonomi akan tetap rendah, bahkan semakin menurun. WB memproyeksikan angka tumbuhnya perekonomian Myanmar tak bakal melebihi 2 persen. Keadaan inlah yang diperkirakan mengakibatkan kemiskinan melompat ketinggian: dari 22,4 persen pada periode 2018-2019 menjadi 27 persen ketika 2020-2021.

Maka menyembulnya aneka kekerasan selama kudeta militer, percepatan kemiskinan disadari ibu-ibu begitu nyata. Terutama dengan melemahnya perekonomian keluarga hingga kosongnya kebuthan-kebutuhan dapurnya. Tidak tersedianya sayur, buah, ikan, dan beragam bahan untuk dimasak bahkan memaksa para IRT mengalihkan fungsi peralatan dapur; dari yang sebelumnya dipakai mengolah santapan keluarga menjadi alat yang memberi tanda tentang bahaya. Pada malam 5 Februari: diawali aksi mereka yang meributkan kota dengan memukul panci dan wajan, maka banyak kalangan berhasil dibangunkan dari tidur panjangnya.

Mendengarkan seruan dari dapur ibu-ibu itulah mengapa—saat masuk 6 Februari pagi—pegawai-pegawai negeri yang bermayoritaskan perempuan terdorong melancarkan pemogokan di kantor-kantornya. Dendangan alat-alat dapur seolah telah mampu menyadarkan warga: bukan saja tentang situasi sekitarnya yang mulai dirayapi kekerasan dari mana-mana, tapi juga kondisi banyak rumah tangga yang sedang terancam hidup miskin dan susah. Kabar ini pada malam harinya disampaikan lagi dengan penggunaan alat-alat dapur serupa, tapi dikukan di lingkungan terbuka.

Kali itu IRT bergerak mengajak anak-anak dan suaminya hingga menyentuh jumlah berlimpah. Jalanan, jembatan, gang, dan lorong-lorong Kota Yangon dipenuhi oleh mereka. Di tengah gulita bebunyian alat dapur bergemuruh ke mana-mana. Polisi dan tentara kemudian datang membubarkan paksa sampai menangkap massa-rakyat secara sewenang-wenang. Kini aparat mulai semakin gila menampilkan kebrutalan. Maka sehari setelahnya (7/2) mogok kembali dilakukan. Sekarang bukan hanya oleh pegawai negeri maupun guru-guru, tapi juga banyak pelajar SMP dan SMA.

Hari selanjutnya (8/2), suara-suara peralatan ibu-ibu tidak saja berhasil menyentuh kantor dan sekolah tapi juga pabrik-pabrik. Seperti IRT, PNS, dan pelajar; buruh kemudian mulai mogok. Walau belum terorganisir rapi, tapi sejak itu gerakan perlawanan yang parsial dan kecil kemudian meluas dan membesar. Hari-hari lalu selalu diisi dengan suara protes, gugatan dan tuntutan terhadap penguasa. Pada 15 Februari, gerakan anti-kudeta militer lalu diikuti oleh seabrek mahasiswa. Maka kampus di mana-mana menjadi benteng pertahanan. Dalam kampus dilakukan pertemuan dengan pelbagai elemen gerakan hingga seruan-seruan aksi diterbitkan.

Pada 17 Februari, 100.000 massa membanjiri daerah Sule. Dan ribuan lainnya berkumpul di dekat Universitas Yangon, Bank Sentral, Kedutaan Besar AS, dan Kantor Perwakilan PBB. Kini aksi massa yang berpekan-pekan dan meletus di mana-mana menggoncang berhasil menggoncang takhta penguasa. Maka kekuasaan neo-fasis beraksi dengan menerjunkan aparatus represif negara dalam jumlah raksasa. Sampai 5 Maret, pengerahan pasukan itu telah membunuh 57 orang dan menangkap serta menahan 1.500 demonstran. Dengan mengerahkan pasukan bersenjata, kekuasaan mengorbankan banyak mahasiswa, pelajar, buruh, ibu-ibu dan wanita-wanita muda: mereka bukan saja menjadi dikriminalisasi karena ikut demonstrasi, tapi juga mendapatkan penganiayaan, pelecehan seksual, bahkan penembakan di lokasi aksi.

Ma Kyal Sin adalah salah satu mahasiswi yang menjadi korban tewas di tangan serdadu. Perempuan berusia 19 tahun ini mati akibat tertembak peluru tajam di kepalanya. Berita kematiannya kini telah menyebar ke segala penjuru. Viralnya gadis muda itu tak sekedar karena dirinya cantik dan mempesona, tapi terutama berkat perjuangannya yang begitu heroik. Seperti paramedis jalanan, dia menyelinap sana-sini dalam barisan bukan demi berfoto narsis untuk diviralkan. Melainkan: guna memberi semangat dan bantuan kepada massa, terutama menolong yang mengalami luka-luka. Maka di belakang tasnya bukan hanya ditempel tanda pengenal golongan darah, namun pula di dalamnya diisi dengan obat-obatan seperlunya.

Sementara untuk memberi harapan kepada kawan-kawan sesama massa aksi, dirinya mengenakan baju bertuliskan kalimat sugestif yang diperkenalkan film Three Idiots: EVERY THING WILL BE OKAY (SEMUANYA AKAN BAIK-BAIK SAJA). Besar dalam keluarga yang tergolong berpenghasilan kecil membuatnya tahu betul apa arti penderitaan dan kemiskinan. Maka diikutinya aksi serupa pendirian pejuang anti-kudeta militer lain: bukan untuk mengamankan kekuasaan Aung San Suu Kyi dan elit-elit NLD, tapi menyelamatkan demokrasi dan kehidupan rakyat dari pemerintahan neo-fasisme. Mengetahui sejarah negerinya yang pernah dikuasai penuh oleh militer, tentu membuat dirinya mengerti dan sadar akan akibat yang dapat ditimbulkan kekuasaan pasukan bersenjata.

Maka melalui gerakan anti-kudeta militer, dirinya percaya bisa mempertahankan demokrasi dari terkaman senjata. Hanya banalitas kejahatan aparat bersenjata tiba begitu cepat menghampirinya. Kala itu bahaya kekuasaan militer tak saja dibuktikan dengan apa yang dirasakan kawan-kawan demonstrannya di sekitarnya. Tetapi bahkan dialaminya sendiri dengan kematiannya. Saat demonstrasi berjalan, dirinya mencoba menolong teman-teman sekitarnya yang terkena gas air mata. Itulah mengapa dia bergerak cekatan: menerabas gumpalan asap dan membuka sebuah kran air untuk membasahi, membersihkan, dan menormalkan penglihatan banyak massa. Namun tiba-tiba peluru tajam menembus kepalanya hingga badannya terpelanting jatuh. Meski ia langsung mati di lokasi, tapi ditemukan catatan berharga. Isinya adalah pemberitahuan mulia: bahwa organ-organ tubuhnya yang masih berfungsi diberikan kepada orang-orang yang membutuhkannya.

Dengan rekam perjuangan dan sikap seperti itulah maka di mana-mana gambar Ma Kyal Sin bukan hanya ditangisi, melainkan pula menjadi sosok dan tindakannya dipetik tauladan dan inspirasi. Kini guliran Revolusi Myanmar 2021, persis kata Ali Syari’ati: setiap revolusi tidak hanya menimbukan luka dan darah seorang martit, tapi juga menebar pesan historis. Pesan sejarah itu berisi kata-kata jelas dan tegas: bahwa penindasan tidak boleh dibiarkan dan kebenaran serta kebaikan tidak boleh menyerah pada kebohongan dan kejahatan.

Melalui buku Do’a, Tangisan dan Perlawanan, Syaria’ti menggambarkan pesan itu dulu pernah disampaikan oleh Imam Husein dalam Revolusi Karbala. Maka perlawanan Husein bersama 72 sahabatnya terhadap 4.000 pasukan Yazid bukan upaya bodoh, bunuh diri, dan sia-sia. Melainkan sebuah aksi langsung dan pengorbanan yang berusaha menyampaiakan pesan untuk para pejuang kebenaran di masa depan. Kini kematian Ma Kyal Sin juga mebawa pesan serupa. Rasa-rasanya: menjelang IWD 2021 pesan Kyal Sin tidak saja untuk seluruh kaum tertindas dari beragam lini kehidupan, tapi lebih-lebih buat kaum perempuan yang tertindas sepanjang sejarah. Bahwa mereka harus bangkit melawan dan merubah keadaan.

Meski dari fase komunal primitif hingga kapitalisme; wanita selalu berada pada posisi yang paling buncit, tapi mereka punya peran penting dalam sejarah. 104 tahun lalu, Revolusi Rusia dipicu oleh mereka. Persis dalam Revolusi Myanmar sekarang, dulu kaum perempuan memiliki peran penting dalam perjuangan revolusioner. Jika sejak 5-6 Februari 2021 di Myanmar, ibu-ibu menyulut api perlawanan yang menjalar ke mana-mana. Dahulu 23 Februari-8 Maret 1917 di Uni Soviet, para perempuan pekerja juga berbuat serupa: pertama kali turun ke jalan, menarik simpati dan dukungan rakyat, hingga mampu membangun gerakan besar dalam menjatuhkan kekuasaan Tsar. Bahkan dalam sejarahnya, wanita memiliki peran yang sangat penting dan tak bisa dilakukan pria. Melalui Wanita Memicu Revolusi Rusia, Fanny Labelle merekam semua:

“Pekerja perempuan memainkan peran penting, bergaul dengan tentara dan menghasut mereka dalam mengarahkan bayonet mereka pada musuh bersama mereka. Peran kunci perempuan dalam Revolusi Rusia ini sebenarnya bukan hal baru. Wanita seringkali menjadi yang pertama memasuki perjuangan dan yang terakhir pergi. Sebagai kelompok tertindas, mereka memiliki segalanya untuk dimenangkan dari penghapusan sistem kapitalis dan perjuangan untuk mendirikan sosialisme….”

Menjelang Hari Perempuan Internasional 8 Maret nanti, perjuangan ibu-ibu, pegawai-pegawai wanita, mahasiswi bersama seluruh permpuan dan laki-laki Myanmar pada gerakan anti-kudeta militer kembali menorehkan peran penting kaum perempuan dalam sejarah. Bahkan dari perjuangan perempuan Myanmar, lebih-lebih yang dilakukan para IRT dan Kyal Sin—perempuan diberi tauladan radikal: wanita harus bersekutu dengan seluruh kaum tertindas, tanpa memadang agama, suku, ras, apalagi jenis kelamin. Maka kepada wanita di mana-mana seolah diberitahukan: bahwa perjuangan kita tidak sebatas menggugat ketidakadilan gender dan menentang kekerasan maupun pelecehan seksual, tapi juga melawan fasisme, militerisme, dan segala bentuk kekuasaan otoritarian.

Bahkan dalam praktik pembebasan yang dilakukan Kyal Sin itu sangat mirip dengan jalan juang seorang anarkis: rela melakukan pengorbanan diri demi merebut kebebasan dari tangan sang tiran. Mati sebagai martir lebih terhormat ketimbang hidup dalam ketakutan dan bungkam tanpa perlawanan. Inilah kenapa perjuangan pembebasan bagi Kyal Sin itu, termasuk emansipasi wanita—dapat dilukiskan dengan pernyataan Bakunin yang dikutip oleh Sean M. Sheehan dalam Anarkisme; Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan:

“Aku bebas hanya ketika semua orang lain di sekelilingku—baik laki-laki maupun perempuan—sama-sama bebasnya. Kebebasan orang lain, alih-alih membatasi atau membatalkan kebebasanku, justru sebaliknya merupakan kondisi dan konfirmasi yang diperlukannya. Aku menjadi bebas dalam pengertiannya yang sejati hanya karena kemerdekaan orang-orang lain, begitu rupa sampai semakin banyak jumlah orang-orang bebas di sekelilingku, makin dalam dan makin besar serta makin ekstensif kemerdekaan mereka, maka makin dalam dan makin luas pula kemerdekaanku.”

Kini pertanyaannya: sekarang adakah perempuan yang berani melanjutkan perjuangan Ma Kyal Sin? Mungkinkah kita hanya menyebarkan fotonya lalu mengenang dan menangisinya? Rasa-rasanya tidak begitu! Tidakkah kamu mengerti bahwa rakyat Indonesia juga membutuhkan perempuan berjiwa bebas, imaginatif, dan nekad seperti itu. Sudah tidak bisa dibiarkan kriminalisasi, penggusuran, kekerasan dan pelecehan seksual berjamuran di mana-mana. Bahkan lebih tak mungkin lagi kalau kita biarkan penguasa negeri ini menindas rakyat-bangsa lainnya. Bukankah di West Papua sana persis apa yang terjadi dengan Myanmar?

Bahkan rasa-rasanya kondisi di Bumi Kasuari melebihi apa yang terjadi Negeri Pagoda! Di sana penganiayaan, pemerkosaan, perampasan kemerdekaan, penculikan dan penghilangan paksa, bahkan pembunuhan dan pembantaian telah berlangsung lama hingga mencatatkan korban yang jumlahnya ribuan jiwa. Di situ seolah tidak demokrasi apalagi hak asasi manusia. Itulah mengapa TNI-Polri bertugas di bawa langit Cendrawasih bkan untuk menegakan hukum dan keadilan, melainkan memekarkan kejahatan kemanusiaan dan merawat ketidakadilan.

Aparat bersenjata di semua negara memang bajingan. Tugas mereka bukan untuk melindungi rakyat, tapi melayani kepentingan kekuasaan. Makanya polisi dan tentara di Myanmar dengan Indonesia tak ada bedanya: sama-sama bebal, banal, dan brutal. Di Myanmar: selama permulaan 2021, ribuan massa aksi ditangkap dan puluhan dibunuh. Di Indonesia: sejak 2019-2020, bahkan 2021 ini ribuan demonstran juga bernasib serupa, bahkan pula ada yang terbunuh. Kini kita malah semakin dipertontonkan dengan intimidasi, teror, dan kriminalisasi yang berlangsung di segala daerah. Kalau di Papua 13 aktivis KNPB dibui paksa lalu dianiaya sampai 1 orang di antaranya mati, maka di Jakarta dan Semarang aktivis-aktivis AMP ikut dikriminalisasi begitu rupa: ada yang ditangkap sewaktu aksi, disergap di asrama, hingga diseret paksa dari kamar kosnya segala

Kepada mahasiswa Papua, negara mendekatinya dengan penuh diskriminasi, teror, dan intimidasi. Di negeri ini mereka tak bisa hidup tenang apalagi mendapat kebebasan sejati. Maklum: sejak 19 Desember 1961 kelas penguasa Indonesia mendekati orang asli Papua sebagai bangsa terjajah. Kini praktik-praktik kolonialistik berlangsung di depan mata kita. Dalam IWD 2021 nanti, perempuan sudah waktunya bukan hanya memperjuangkan pembebasan kaumnya sendiri melainkan pula bangsa tertindas. Perempuan Myanmar—terutama Ma Kyal Sin memberi tauladan atas perjuangan yang begitu: melawan kudeta militer untuk membebaskan semua orang dari kekuasaan neo-fasis. Atas nama kesetaraan dan kebebasan—dia memberi pelajaran besar: tidak takut mati selama apa yang dilakukannya adalah benar

Sekarang kita butuh perempuan seperti demikian. Mereka yang mudah tersentuh melihat ketidakadilan dan penindasan. Jika betul kita bersimpati dan terilhami oleh perjuangan Ma Kyal Sin, maka sudah waktnya kita melanjutkan apa yang sedang diperjuangkannya. Dari Kyal Sin kita melihat bahwa yang dicita-citakannya adalah tatanan yang adil dan memansiakan manusia. Maka emansipasi perempuan baginya: tidak sebatas untuk dirinya sendiri, tapi semua manusia. Itulah mengapa perjuangannya tak memisahkan diri dari laki-laki, melainkan berjuang bersama selama yang dilawan dan dicita-citakan juga sama. Sepertinya dia pernah membaca apa yang ditulis Emma Goldman dalam Anarkisme; Apa Sesungguhnya yang Diperjuangkan:

“Kebebasan dan kesetaraan perempuan! Harapan dan aspirasi macam apa yang dibangkitkan dari kata-kata ini saat pertama kali diucapkan oleh segelintir jiwa yang paling mulia dan berani di masa itu. Matahari yang bersinar sempurna dan kemuliaan akan segera menyambt dunia baru; dalam dunia ini perempuan bebas menentukan takdirnya sendiri—sebuah cita-cita yang tentunya membuthkan keteguhan, keberanian, ketekunan, dan usaha tiada henti dari sejumlah pelopor baik perempuan maupun laki-laki, yang telah mempertaruhkan segalanya untuk melawan dunia yang dipenuhi oleh prasangka dan ketidaktahuan.

PAPUA WONE GOREK

Cinta Yang Menindas

Oleh Reza A.A Wattimena

Sudah tak terhitung teman dan keluarga yang bercerita, betapa sulitnya membangun hubungan cinta di abad 21 ini. Banyak yang kandas di tengah jalan, karena tekanan keluarga.

Di Indonesia, jodoh tak ada di tangan pribadi. Keluarga amat sangat menentukan.

Soal agama dan ras menjadi unsur penting. Cinta dan komitmen urusan belakangan.

Perbedaan agama menghancurkan cinta dan komitmen banyak pasangan. Perbedaan ras menyusul di belakangnya.

Tak hanya itu, harta pun menjadi salah satu patokan utama. Jika agama, ras dan harta tak sesuai, orang tua siap menekan dan menindas.

Yang dipermainkan adalah rasa bersalah dan konsep dosa yang primitif. Anak yang berani menentang orang tua akan dituduh durhaka, bahkan masuk neraka yang sesungguhnya tak pernah ada.

Karena cintanya pada orang tua, dan lemahnya daya akal sehat, banyak anak tunduk tak berdaya. Mereka hidup dalam kepalsuan demi menghindari tuduhan durhaka, ataupun ancaman neraka yang hanya mimpi kosong belaka.

Dampaknya

Ada empat hal yang perlu diperhatikan. Pertama, dengan pola hubungan semacam ini, derita yang dihasilkan begitu besar. Banyak hubungan hasil paksaan orang tua berakhir dalam nestapa.

Perselingkuhan terjadi. Kekerasan dalam rumah tangga menghantui keluarga, dan menyerang buah hati yang ada.

Kesehatan mental anggota keluarga terganggu. Stress, depresi dan bahkan bunuh diri menjadi hal biasa yang ditutupi dari mata masyarakat luas.

Tak heran, secara global, perceraian menyentuh angka 50 persen lebih. Pernikahan lalu menjadi lembaga sia-sia yang hanya menghasilkan derita.

Dua, pada tingkat yang lebih luas, pola menikah berdasarkan ras, agama dan harta ini memecah belah bangsa. Indonesia dan Pancasila menjadi slogan belaka, tanpa makna.

Masyarakat terpecah di antara kelompok-kelompok kecil yang saling curiga satu sama lain. Semangat pluralitas dan multikulturalitas, yang menjadi ciri terpenting Indonesia, pun terancam lenyap.

Tiga, pola hubungan semacam ini adalah sebentuk rasisme. Ras, agama dan tingkat ekonomi tertentu dianggap lebih luhur dari yang lainnya.

Rasisme adalah kutukan peradaban modern yang lahir dari Eropa, dan kemudian menyebar ke seluruh dunia. Di Indonesia, karena lemahnya pendidikan berpikir kritis, rasisme tersebar begitu dalam dan luas.

Bangsa rasis adalah bangsa yang terpecah. Konflik dan bahkan pembunuhan massal dengan amat mudah terjadi, jika ini terus diabaikan dalam sunyi.

Empat, pola hubungan dangkal semacam ini adalah sebuah proses dehumanisasi. Kemanusiaan orang diukur semata dari ras, agama maupun tingkat ekonominya.

Ini adalah pandangan sesat yang telah banyak menghasilkan derita dan perang di masa lalu. Di abad 21, pandangan sesat semacam ini sudah layaknya dibuang jauh-jauh.

Mengapa?

Ada dua hal yang menjadi penyebab. Pertama, ketakutan adalah akar dari kesempitan berpikir. Hubungan keduanya bersifat timbal balik.

Pluralitas mengerikan, karena ia penuh ketidakpastian. Kesamaan, baik agama, ras maupun kelas ekonomi, menyediakan ilusi keamanan semu.

Banyak orang tua jatuh dalam kesempitan berpikir dan ketakutan dangkal semacam itu. Mereka menekan dan menindas anaknya untuk hidup sesuai dengan keinginannya. Inilah cinta palsu yang menindas.

Dua, semua ini berakar lebih pada lemahnya sistem politik, ekonomi dan pendidikan kita di Indonesia. Negara tak menghadirkan rasa aman, dan tak mencerdaskan rakyatnya.

Sebaliknya, negara justru kerap menjadi penghalang kemakmuran dan kecerdasan warganya. Elit politik tercabut jauh dari kepentingan rakyat yang sesungguhnya, sehingga membuat kebijakan-kebijakan yang merusak.

Alhasil, orang berharap penuh pada keluarga. Agama, ras dan harta lalu seolah menjadi yang utama untuk menjaga keutuhgan serta keamanan keluarga.

Berani menentang keluar berarti berani berkhianat. Orang lalu dilepas ke rimba masyarakat luas, tanpa perlindungan lagi dari keluarga.

Padahal, jika diperhatikan lebih jeli, keluarga kerap kali menjadi sumber derita dan masalah besar dalam hidup banyak orang. Hanya ketakutan dan kesempitan berpikir yang seringkali mengikat banyak keluarga di Indonesia.

Lalu Bagaimana?

Pada tingkat yang lebih luas, jika sistem politik, ekonomi dan pendidikan kokoh, maka rakyat akan merasa aman, cerdas dan makmur. Banyak derita dan masalah sosial akan terhindarkan secara alami.

Orang tak perlu bersandar buta pada keluarga yang menindas. Negara siap merawat semua warganya, tanpa syarat dan tanpa kecuali.

Jadi, sistem politik, pendidikan, ekonomi dan pola mencintai manusia tetap tak terpisahkan. Negara yang bermutu akan melahirkan keluarga yang bermutu, yang tak akan menindas atas nama kepalsuan cinta, apalagi menindas atas nama kesempitan berpikir beragama.

Cinta lalu mengambil bentuknya yang sejati. Ia berakar pada kesadaran, dan memanusiakan manusia.

PAPUA WONE GOREK

Pdt.Dr Beni Giay presiden Kingmi di Tamah papua diAdang Oleh Aparat Kepolisian di Depan Gedung DPR papua.

Jayapura, Jubi – Ketua Sinode Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua, Pdt. Dr. Benny Giay menyatakan aparat keamanan di Papua semakin represif, seperti akan menutup setiap ruang bagi para pihak di Papua untuk menyampaikan aspirasinya.

Kesimpulan itu diambil Pdt Benny Giay, sebab ia sebagai pimpinan salah satu sinode gereja di Tanah Papua pun tak diberi ruang oleh kepolisian Polres Kota Jayapura, saat akan bertemu anggota DPR Papua di kantor DPR Papua, Senin (16/8/2021).

“Saya kira, ini tanda-tanda aparat ke depan akan semakin represif. Mesti ada paradigma baru bagaimana negara dan aparatnya melihat orang Papua,” kata Pdt Benny Giay kepada Jubi, usai dari kantor DPR Papua.

papua wine gorek

Berbagai kekerasan dan rasisme terhadap orang Papua akan diangkat ke sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bulan Juni ini. Organisasi masyarakat sipil berharap, berbagai pelanggaran HAM itu bisa dihapuskan.

Bagi mahasiswa Papua, Joice Etulding Eropdana, rasisme sudah menjadi makanan sehari-hari. Mulai dari tatapan sinis sampai cemooh merendahkan.

“Tidak hanya dari ucapan-ucapan yang membawa isi kebun binatang dan lain sebagainya, tatapan sinis pun itu selalu kami alami. Dan itu jadi sesuatu yang membekas, selalu dialami mahasiswa Papua yang bersekolah di luar Papua,” jelas mahasiswi yang berkuliah di Bali ini.

Dalam diskusi ‘Papuan Lives Matter’ (Nyawa Orang Papua itu Penting), Jumat (5/6) siang, Joice mencontohkan kasus rasisme di Surabaya pada 2019 lalu. Saat itu, sejumlah mahasiswa di asrama mahasiswa Papua mendapatkan ujaran merendahkan. Namun mereka dituding sebagai pembuat onar.

Seorang mahasiswa Papua dengan wajah dicat bendera "Bintang Kejora" meneriakkan slogan-slogan dalam unjuk rasa di depan Istana Kepresidenan di Jakarta, 28 Agustus 2019.

Seorang mahasiswa Papua dengan wajah dicat bendera “Bintang Kejora” meneriakkan slogan-slogan dalam unjuk rasa di depan Istana Kepresidenan di Jakarta, 28 Agustus 2019.

“Padahal yang mengeluarkan ujaran rasial, ujaran kebencian itu adalah orang-orang di Surabaya. Ada ormas dan ada pihak dari kepolisian yang merupakan institusi negara ada di situ, dan mereka yang mengeluarkan ujaran rasial,” tegasnya lagi.

Menurut Joice, orang Papua Hanya ingin menyuarakan berbagai pelanggaran di Bumi Cenderawasih.

“Tentang kekerasan di Papua, pelanggaran HAM di Papua. Saat kami ingin memberikan pendapat di ruang publik, itu kami direpresi oleh aparat. Dan berbagai ujaran rasial itu selalu kami terima, itu bukan hal yang satu dua kali kami alami, tapi sering kami alami,” tambahnya.